ANALISIS KEJIWAAN DR. JEKYLL DALAM NOVEL “THE STRANGE CASE OF DR. JEKYLL AND MR. HYDE” KARYA ROBERT LOUIS STEVENSON


ANALISIS KEJIWAAN DR. JEKYLL DALAM NOVEL “THE STRANGE CASE OF DR. JEKYLL AND MR. HYDE” KARYA ROBERT LOUIS STEVENSON

Ferry Ismawan

 

 

A. PENDAHULUAN

Dr. Jekyll adalah salah satu nama tokoh utama antagonist dalam karya sastra novel dari Robert Louis Stevenson. Novel yang pertama kali dipublikasikan di tahun 1866 ini dianggap sebagai salah satu dari novel horror  terbaik yang menitikberatkan pada kejadian kejadian yang menakutkan yang berasal dari percobaan ilmiah yang dilakukan oleh Dr. Henry Jekyll. Dalam novel yang terdiri atas 11 bab tersebut ditunjukkan jalinan elemen fiksi ilmiah yang sangat kuat, suatu jenis genre sastra yang memfokuskan pada cerita fiksi bagaimana eksperimen ilmiah, serta penemuan penemuan dan teknologi dapat mempengaruhi manusia, baik menjadi lebih baik ataupun malahan menjadi lebih tidak baik.

Jika melihat sumber inspirasi pembuatan novel ini, akan kita dapati bahwa bahwa “the Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde” hanyalah sebuah mimpi pribadi dari Robert Louis Stevenson, pengarangnya. Ketika Stevenson terbangun dari tidurnya, plot cerita novel ini mengkristal dan ditulisnya yang akhirnya menjadi salah satu novel terbaiknya. Belakangan teori psikologi menyebut transformasi dan  perubahan yang terjadi pada Dr. Jekyll adalah salah satu bentuk penyimpangan kepribadian yang terbelah atau “split personality” yang oleh para ahli disebut sebagai “dissociative-identity –disorder” atau istilah jargon nya dari multiple-personality disorder. Si penderita penyakit kejiwaan ini dianggap mempunyai dua atau lebih kepribadian. Sejatinya, kepribadian ganda ini secara ilmiah pernah dilaporkan sekitar beberapa dekade tahun yang lalu dari pasien Dr. Martin Prince yang merahasiakan nama pasien itu dan menyebutnya sebagai Sally Beauchaump.[1] Referensi terbaru juga menyatakan kasus kepribadian ganda juga terjadi pada Billy[2] dengan 24 kepribadian dan Sybil [3] dengan 16 kepribadian.

Dalam paper singkat ini, penulis mencoba memformulasikan permasalahan penokohan Dr. Jekyll dalam beberapa konsepsi dan teori teori yang sifatnya mendukung. Dalam term sastra, Edward H. Jones dalam bukunya Outline of Literature : Short Stories, Novels, and Poems menyebutkan bahwa penokohan dikonsepsikan sebagai pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Sedangkan Robert Stanton dalam bukunya An Introduction to Fiction menyebutkan bahwa penggunaan istilah “karakter” sendiri dalam literature bahasa Inggris menyarankan pada dua pengertian yang berbeda, yaitu sebagai tokoh tokoh cerita yang ditampilkan, dan sebagai sikap ketertarikan, keinginan, emosi dan prinsip prinsip moral yang dimiliki oleh tokoh tokoh tersebut.

M.H. Abrams dalam karyanya berjudul A Glossary of Literary Terms menunjukkan kepada pembaca bahwa tokoh cerita atau character adalah orang orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh para pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

Dari kutipan tersebut juga dapat diketahui bahwa seorang tokoh seperti Dr, Jekyll misalnya, dengan kualitas pribadinya berkaitan erat dengan penerimaan pembaca.  Dalam hal ini, khususnya dari pandangan teori resepsi atau penerimaan pembaca, maka kita sebagai pembaca-lah yang memberi arti semaunya. Untuk kasus kepribadian seorang tokoh seperti Dr. Jekyll, pemaknaan itu dilakukan berdasarkan kata kata yang muncul secara verbal ataupun yang muncul secara non verbal melalui tingkah laku, mimik dan gesture tubuh. Perbedaan antara tokoh yang satu dengan yang lain lebih ditekankan oleh kualitas pribadi daripada dilihat secara fisik. [4]

Dalam kamus psikologi, situasi yang dialami oleh Dr. Jekyll ketika menjadi Mr Hyde adalah salah satu bentuk dari multiple personality. Chaplin merumuskan multiple personality sebagai :

“a pathological condition in which the integrated personality fragments into two or more personalities each of which manifests a relatively complete integration of its own and which is relatively independent of the other personalities.[5]

 

B. ANALISA KARAKTER KEPRIBADIAN DR JEKYLL DALAM BEBERAPA KONSEPSI KEJIWAAN

 

1. Sudut Pandang dan Perspektif Penulisan

Dr Henry Jekyll, dalam novel ini digambarkan sebagai seorang dokter yang cukup ternama dan berteman dengan Dr. Lanyon dan Utterson,  pengacara Dr Jekyll. Seperti kita ketahui cerita novel ini disajikan dalam sudut pandang the third person, yakni dari sudut pandang Gabriel John Utterson. Namunpun demikian ada bagian kecil cerita yang disajikan dalam sudut pandang orang pertama yang dilakukan oleh Jekyll dan Lanyon melalui surat yang dibaca oleh Utterson.

2. Beberapa konsepsi tentang kepribadian dan elemen yang melingkupinya

Mengenai ke multikompleksan pribadi Dr Jekyll yang terbelah, penulis mencoba mencari beberapa rujukan dan menghubungkan dengan teori kepribadian, baik kepribadian Islam  mengenai proses atau dinamika kepribadian yang disampaikan oleh Murtadha Muthahhari, juga teori psikoanalisa yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Selain itu, karena satu permasalahan tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja, penulis juga mengutip konsep society-nya Talcott Parsons.

Dari hubungan hubungan sosialisasi yang dibuat oleh Dr. Jekyll, akan kita dapati bahwa jaringan sosial dalam masyarakat dan status sosial sangat berpengaruh dalam menganalisa kepribadian Dr. Jekyll. Menurut Parson masyarakat atau society adalah :

…..sejenis sistem sosial khusus. Kita memperlakukannya sebagai salah satu sub sistem yang utama dalam tindakan manusia, yang lainnya adalah organisme tingkah laku yang ada, sistem kepribadian suatu individu dan sistem kebudayaannya.[6]

Dari kutipan tersebut diatas, penulis mencoba menunjukkan bahwa analisis kejiwaan Dr. Jekyll tidak bisa dilakukan dari satu sisi pendekatan saja, melainkan lebih ke arah multi dimensional.  Karakter Dr. Jekyll selain sebagai sebuah karakter individu juga membentuk kesatuan dalam jalinan kelas dalam masyarakat seperti yang diutarakan oleh Parsons diatas.

Muthahhari menunjukkan bahwa sesuai dengan unsur ciptaannya, manusia selalu berproses, berupaya meningkatkan diri ke arah ruh Allah mendekati tingkat ilahiah, atau jatuh terperosok ke tanah mendekati tingkat hewaniah. Karena manusia terdiri dari jasad, akal dan ruh. Maka itu tinggal dilihat saja mana yang lebih dominan yang dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Yang menarik dari Murtadha Muthahhari adalah, bahwa dia juga menyebutkan tentang Insan Kamil atau Manusia Seutuhnya, yang  kalau oleh Nietzsche disebut dengan Uebermensch (Superman).

Dalam bukunya yang berjudul “Psychopathology of Everyday Life”, Sigmund Freud menjelaskan gejala gejala gangguan (ringan) yang menjurus pada penyakit kejiwaan seperti histeria dan neurosis kompulsif.  Pada awalnya hal ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, namun ternyata muncullah makna tertentu serta didapati bahwa manifestasi manifestasi gangguan itu sebenarnya bukanlah fenomena yang terjadi secara serampangan, melainkan memiliki keteraturan keteraturan tertentu. Hal ini cukup memberikan jawaban bagaimana Dr Jekyll mendapatkan gangguan gangguan yang makin lama makin tak terkontrol.

Karena sejak mudanya Dr. Jekyll menyukai percobaan ilmiah, maka tidaklah mengherankan bahwa tingkah lakunya sedikit demi sedikit mulai tidak terkontrol dalam ukuran kacamata masyarakat umum. Seringkali dalam novel ini kita temui kutipan kutipan yang menunjukkan adanya gejala gejala gangguan (ringan) yang menjurus pada penyakit kejiwaan seperti histeria dan neurosis kompulsif seperti yang diutarakan Freud.

Saat Dr. Jekyll menemukan sisi gelapnya sebagai sebuah beban, dia berusaha melakukan percobaan untuk memisahkan kepribadian yang baik dan yang buruk. Padahal, jika mengau pada konsep Freud mengenai kepribadian akan didapati bahwa kepribadian itu pada dasarnya terbagi atas tiga sistem yang penting dan semuanya membentuk ketersepaduan. Ketiga sistem itu adalah : id,[7] ego[8] dan superego. [9]

Dalam diri seseorang yang mempunyai jiwa yang sehat, ketiga sistem itu merupakan satu susunan yang yang bersatu dan harmonis. Dengan bekerja sama secara teratur, ke tiga sistem ini memungkinkan seorang individu untuk bergerak secara efisien dan memuaskan keinginan manusia yang pokok.[10] Sebaliknya kala ketiga sistem ini bertentangan satu sama lain, maka orang yang bersangkutan dinamakan orang yang tidak bisa menyesuaikan diri. Ia tidak puas dengan dirinya sendiri dan dengan dunia, dan akibatnya efisiensinya menjadi kurang. [11] Diagram dari Maslow akan mempertegas pemahaman kita mengenai kebutuhan dasar. Diagram Maslow sendiri disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut : 1 Kebutuhan fisiologis atau dasar. 2.Kebutuhan akan rasa aman dan tentram. 3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayang.  4. Kebutuhan untuk dihargai. Terakhir, 5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Sementara dalam kasus Dr. Jekyll, akhirnya ketika ia memunculkan tokoh Mr Hyde ke dalam kenyataan dengan cara mentransformasikan dirinya ke suatu cara yang akhirnya malahan menjadi sisi gelap dari separuh kepribadiannya. Lebih lanjut, Freud menyatakan bahwa garis pemisah antara orang normal dengan orang yang menderita neurosis sangatlah samar dan sulit untuk ditarik secara tegas dan bahwa mekanisme mekanisme psikopatologis yang nampak dengan begitu mencolok pada psikoneurosis dan psikosis biasanya dapat dibuktikan juga terjadi pada orang normal dalam kadar yang lebih ringan. Dengan demikian, perbedaan antara kondisi mental normal dengan kondisi mental abnormal sebenarnya tidaklah setegas seperti yang selam ini ada dalam anggapan kita.

Tokoh Dr. Jekyll ini seolah-olah menghentak kita dengan dualitas sifat manusia, dengan dikotomis hitam-putih nya, baik dan buruk, kaya-miskin, cantik dan jelek yang bahkan masih sangat relevan sampai detik ini. Jekyll mempertegasnya dengan kutipan “Man is not truly one, but truly two”. Dengan demikian kita pun sebagai pembaca akan menyadari bahwa sejatinya tubuh dan pikiran kita adalah sebuah medan pertempuran antara sisi malaikat dan sisi iblis yang masing masing saling berjuang untuk menguasai tubuh. Kasus semacam ini sangat terlihat jelas pada kasus Sybil[12], seorang gadis berusia 37-an tahun yang menderita perpecahan kepribadian sejak kecil, dan William Stanley  Milligan, orang pertama dalam sejarah Amerika yang dianggap tidak bersalah atas berbagai tindakan serius dengan alasan kegilaan, yang lebih dikenal dengan nama pendeknya saja, Billy[13].

C. PENUTUP

Sebagai penutup, dalam paper ini ini penulis ingin menekankann konsep bahwa memahami kepribadian manusia itu tidaklah mudah. Adapun sisi positif dari Freud adalah ia sendiri pun juga belajar untuk tidak memandang alirannya sebagai “yang paling mengerti” tentang kedalaman kepribadian manusia. Dalam paper ini juga dimunculkan istilah represi yang perlu diketengahkan karena Sigmund Freud sebagai penggagasnya mendapatkan tentangan dari teman sejawatnya, Carl Gustav Jung. Penderita sakit kejiwaan ketika ditanya tentang penyebab sakit kejiwaannya seringkali akan menghindar dengan cara berbohong. Kita sering melihatnya walau dalam taraf yang berbeda di program televisi lokal seperti tayangan Uya Memang Kuya atau acara hipnotis yang sering dilakukan Romi Rafael. Saat seorang dalam kondisi tidak sadar karena hipnotis, antara apa yang dipikirkan dalam alam bawah sadarnya akan bertolak belakang dengan apa yang diutarakan dalam alam nyata nya.

Pada bagian berperannya represi, Jung masih sepakat, namun Jung belum bisa menerima penyebab dari represi yang dikatakan Freud berasal dari trauma seksual. Pada penelitian Jung, faktor faktor lain lah yang lebih menonjol ke depan seperti problem adaptasi sosial, tekanan dari kesadaran tragis kehidupan seseorang, pertimbangan gengsi, martabat dan sebagainya. Masalah seksualitas, oleh Jung hanya dianggap memerankan peran subordinat. Namun harus kita akui, bahwa sumbangsih konsep ini sangat unik dan memberikan wawasan lain atas kedalaman kepribadian manusia. Kutipan nya yang cukup terkenal : “kepribadian manusia jauh lebih dalam dan lebih kompleks daripada lapisan kesadaran yang kita kenal” semakin lama semakin teruji.

Dr Jekyll sebagai suatu individu yang berusaha mengontrol kepribadian sisi gelapnya tidak luput dari kekurangan sebagai makhluk biologis. Hyde seringkali bisa melepaskan kontrol atas dirinya. Hal ini senada dengan thesis Freud bahwa pada dasarnya sebagai makhluk biologis, pertama tama yang dimiliki manusia adalah tubuh. Ketika manusia sudah mengenal pergaulan sosial, akal sehat, tingkah laku, adat istiadat, moralitas dan ilmu pengetahuan, maka manusia bertransisi menjadi makhluk sosial.

Sifat dasar manusia yang ingin mencari kepuasan pribadi hinngga ke titik tertinggi ala diagram Maslow, digambarkan dalam pribadi Dr Jekyll yang haus akan ilmu pengetahuan, Science bisa diinterpretasikan sebagai religion bagi orang orang agnostik, dan dengan sendirinya menepikan agama dan moralitas. Dr Jekyll menunjukkan kepada kita bahwa manusia seringkali melanggar batas hitam putih dan melompati batas batas ”etika” dengan dalih “ilmu pengetahuan.”

Dalam hubungannya dengan teori dan analisa individu Dr Jekyll, kita tidak bisa menepiskan anggapan bahwa identitas terjadi melalui interaksi individu dengan orang orang yang penting dalam keluarganya, terkhusus orangtua dan keluarga atau orang terdekat lain. Maka mengutip saran umum kebanyakan, sebaiknya kita lebih mengenal diri sendiri, knowing yourself, gnoti seauthon, sehingga kita akan memiliki apa yang disebut “ego boundaries” yaitu batasan yang jelas tentang darimana diri kita, juga mengetahui dan mengidentifikasi mana yang bukan dirinya. Dari batasan tersebut, terbentuklah “a sense of I-ness” atau “rasa ke aku-an” yang menjadi dasar dari “self” [kepribadian] yang disebut identitas, jika kita tidak ingin mengalamai “krisis identitas”.

Paragraf terakhir akan penulis isi dengan pengulangan pandangan filosofis dari Murtadha Muthahhari, bahwa sesuai dengan unsur ciptaannya, manusia selalu berproses, berupaya meningkatkan diri ke arah ruh Allah mendekati tingkat ilahiah, atau jatuh terperosok ke tanah mendekati tingkat hewaniah. Karena manusia terdiri dari jasad, akal dan ruh. Maka itu tinggal dilihat saja mana yang lebih dominan yang dikembangkan oleh manusia itu sendiri.

 

DAFTAR KEPUSTAKAN

Chaplin, J.P. Dictionary of Psychology. (Dell Publishing Company Inc. New York : 1975)

Freud, Sigmund. Psychopathology of Everyday Life. terjemahan (Yogyakarta : Penerbit Pedati : 2005 )

Hall, Calvin S. Libido Kekuasaan Sigmund Freud. (Yogyakarta : Penerbit Tarawang : 2000)

Keyes, Daniel. 24 Wajah Billy. (Bandung : Penerbit Qanita : 2005)

Schreiber, Flora Rheta.  Sybil. (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan : 2001)

Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. [Yogyakarta : Gadjah Mada University Press ; 2007)

Parsons, Talcott. Societies: Evolutionary and Comparative Perspecives. (New Jersey : Prentice Hall, Inc Englewood Cliffs : 1966)

Stevenson, R.L. Dr Jekyll and Mr Hyde. Abridged and simplified by Norman Wymer (Glasgow : Norman Wymer :  1978)


[1] Lihat  J.P. Chaplin. Dictionary of Psychology. (Dell Publishing Company Inc. New York : 1975) halaman 329

[2] Lihat Daniel Keyes. 24 Wajah Billy  (Bandung : Penerbit Qanita : 2005).

[3] Flora Rheta Schreiber. Sybil. (Jakarta : Gramedia )

[4] Burhan Nurgiyantoro. Teori Pengkajian Fiksi. (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press; 2007) halaman

[5] J.P. Chaplin. Loc.cit

[6] Talcott Parsons. Societies : Evolutionary and Comparative Perspectives. (New Jersey : Prentice Hall Inc, Englewood Cliff : 1966) halaman 5

[7] Fungsi id ini menunaikan prinsip kehidupan yang asli atau yang pertama yang dinamakan prinsip kesenangan (pleasure principle). Tujuan dari prinsip kesenangan ini adalah untuk mengurangi ketegangan. Ketegangan dirasakan sebagai penderitaan. Tujuan dari prinsip kesenangan ini dapat dikatakan terdiri dari usaha mencegah dan menemukan kesenangan

[8] Berlainan dengan id yang dikuasai oleh prinsip kesenangan, ego dikuasai oleh prinsip kenyataan (reality principle). Tujuan prinsip kenyataan adalah untuk menangguhkan peredaan energi sampai benda nyata yang akan memuaskan telah diketemukan atau dihasilkan. Penangguhan suatu tindakan berarti bahwa ego harus dapat menahan ketegangan sampai ketegangan itu dapat diredakan dengan suatu bentuk kelakuan yang wajar. Prinsip kenyataan diladeni oleh suatu proses yang disebut Freud sebagai proses sekunder (secondary process).

[9] Superego lebih mewakili alam ideal daripada alam nyata. Superego terdiri dari dua anak system, ego ideal dan hati nurani. Ego ideal sesuai dengan pengertian-pengertian anak tentang apa yang secara moril dianggap baik oleh orang tuanya. Agar superego itu mempunyai pengawasan terhadap anak seperti yang dmiliki orang tuanya, adalah penting bagi superego untuk mempunyai kekuatan untuk mendesakkan ukuran-ukuran morilnya, dengan jalan penghargaan dan hukuman. Penghargaan dan hukuman ini diberikan kepada ego, karena ego, disebabkan pengawasannya atas tindakan seseorang, dianggap bertanggung jawab untuk terjadinya tindakan-tindakan yang moril dan immoral.

[10]  Calvin S. Hall. Libido Kekuasaan Sigmund Freud. (Yogyakarta : Penerbit Tarawang : 2000) hal 17.

[11] Calvin S. Hall. Ibid.

[12] Dalam novel ini diceritakan tentang kisah nyata Sybil, seorang gadis (berusia 37 tahun-an) yang mengalami perpecahan kepribadian sejak kecil. Setelah seringkali mengalami black out / benar2 lupa atas kejadian yang telah dialami, Sybil pun berobat ke psikiater, Dr Wilbur. Dari sanalah diketahui bahwa didalam tubuh Sybil terdapat 16 “orang” yang lain yang sering “mengambil alih” tubuh Sybil sehingga Sybil mengalami black out. Mereka adalah: Clara, Helen, Marcia, Marjorie, Mary, Mike (laki-laki), Nancy Lou Ann Baldwin, Peggy Ann Baldwin, Peggy Lou Baldwin, Ruthie, Sid (laki-laki), Sybil Ann, Sybil Isabel Dorsett, Vanessa Gaile, Victoria Antoniette Shcarleu (Vicky) dan pribadi terakhir yang tak diketahui namanya.

[13] Novel ini menceritakan riwayat hidup dari William Stanley Milligan atau Billy Milligan, orang pertama dalam sejarah Amerika yang dianggap tidak bersalah atas berbagai tindak kejahatan serius dengan alasan tidak waras. Billy Milligan menderita split personality sehingga dia memiliki 24 kepribadian yang berbeda satu dengan yang lain. Billy Milligan pertama kali memunculkan alter ego-nya pada saat ia berusia 3 tahun. Christine, seorang gadis kecil yang menderita disleksia. Adapun beberapa alter ego yang ternyata beberapa menyelamatkan nyawanya. Pada saat Billy memasuki usia 16 tahun, ia mencoba bunuh diri, tetapi alterego yang bernama ragen ‘(rage again) menghentikan tubuhnya, serta menghindarkan Billy dari percobaan bunuh dirinya. Jumlah alter ego billy ada 24, sepuluh dari mereka adalah “mereka yang diinginkan”, dan sisanya adalah “yang tidak diinginkan”. Perpaduan atau fusi dari semua aler ego tersebut akan memunculkan satu kepribadian, “sang guru”.

About these ads

1 Komentar (+add yours?)

  1. Trackback: Review: The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde, by Robert Louis Stevenson « Surgabukuku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: