WORDS LEFT UNSPOKEN


WORDS LEFT UNSPOKEN

FERRY ISMAWAN THAMRIN 

 

I search the shadow of you
by the footprints you make me to

Through the beach we walk down
the river we canoe
and the mountain we climb up

Then we grab it
it seems like clouds
we can not reach
so we go through it
until we make it

and hoping that
we might never  ever kept away

but I don’t understand
why there have to be some words
left unsaid
left unspoken

published in Hello Magazine February 1995

 

GLOBALISASI: ERA DIGITALISASI PIKIRAN DAN INFORMASI


GLOBALISASI: ERA DIGITALISASI PIKIRAN DAN INFORMASI
FERRY ISMAWAN

“Nothing remains untouched by communication technology. Emory A. Griffin

PENDAHULUAN
Memaknai globalisasi berarti memaknai suatu proses dimana bangsa-bangsa terkondisikan dalam situasi untuk menerima kultur, tradisi, dan nilai-nilai yang dianggap universal. Memaknai globalisasi bukan berarti hanya menerjemahkan istilah ini menjadi istilah sejenis seperti westernisasi atau Amerikanisasi. Barangkali secara sederhana dapat dilakukan dengan melihat beberapa fenomena seperti banyaknya orang memakai jeans Levis dan alas kaki Converse, Nike atau Reebok dan, makan di resto cepat saji seperti KFC atau McDonald. Amatilah juga pengunjung resto atau cafe saat ia mengetik di laptop Mac atau saat ia berinteraksi lewat Black Berry Messenger, atau smartphone dengan sistem operasi android. Amati pula apakah ia menggunakan jejaring sosial seperti facebook dan twitter sambil berfoto ria dan menguploadnya di instagram serta menikmati soda Pepsi atau Coca-Cola. Mungkin pula mereka sedang nongkrong di Café Bean dan Starbucks. Atau bisa jadi kita tengah bersantai menonton TV drama Korea, berita di CNN atau menonton bareng liga Inggris dan liga Italia atau berbagai hiburan lain di stasiun TV kabel sambil makan Pizza Hut atau Dunkin Donut pada TV plasma bermerk Sony, LG atau Samsung. Serbuan beberapa brand dalam benak dan lifestyle kita mengisyaratkan bahwa dunia ini memang makin tak punya batas, atau borderless, atau meminjam istilah Marshal Mc Luhan sebagai global village.
Desa Global menggambarkan ketiadaan batas waktu serta tempat yang jelas, sebagai akibat dari cepatnya arus informasi massif di masyarakat. Informasi dapat terakses dari satu tempat satu ke belahan dunia lainnya dalam hitungan waktu yang super cepat, dengan memakai teknologi internet. McLuhan, beberapa puluh tahun lalu memprediksikan bahwa manusia akan bergantung terhadap teknologi, khususnya teknologi komunikasi serta informasi. McLuhan ternyata telah memperkirakan kondisi empat dasawarsa atau apa yang kita sebut sebagai sekarang ini. Pada masa yang disebut digitalized dan computerized tersebut terjadi perubahan cara serta pola komunikasi. Masyarakat tentunya mengalami sebuah revolusi komunikasi, dan berdampak pada komunikasi antar individu.
Bertentangan dengan “kekuatan” teknologi media massa, manusia tidak akan mengagumi internet seperti pada awal kehadirannya di tengah masyarakat, sekalipun Internet dapat menghubungkan satu orang dengan orang lainnya dalam tempat yang berjauhan, menyampaikan banyak pesan ke tempat yang berlainan dalam satu waktu bersamaan. Perkembangan teknologi seperti yang dinyatakan dalam desa global, membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah orang selalu bisa mengetahui kabar terbaru yang terjadi di tempat lain, dapat berkomunikasi dan terhubung walau dalam jarak ribuan mill, mencari dan bertukar informasi. Adapaun dampak negatifnya adalah internet-addicted, merasa tidak bisa hidup tanpa internet, bahkan muncul fenomena orang merasa lebih “eksis” di dunia maya daripada di dunia nyata, sehingga menggangu hubungan sosialnya dengan orang lain.
Dalam buku The World is Flat, Thomas L. Friedman mengatakan bahwa dunia ini didatarkan oleh konvergensi 10 peristiwa utama yang berhubungan dengan politik, inovasi dan perusahan. Perkembangan cepat yang membuat manusia menjadi semakin sibuk, menjadikannya bisa melihat satu dengan yang lain walau pada belahan bumi yang berbeda.
Memang, menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang bermakna universal. Seringkali ‘globalisasi’ ditafsirkan tidak lebih sebagai sarana legitimasi atas proses pembaratan atau “westernisasi” dan sebagai cara yang lebih “sophisticated” untuk melakukan westernisasi. Menurut kamus Macmillan English Dictionary, ‘globalisasi’ diartikan sebagai:
“the idea that the world in developing a single economy and culture as a result of improved technology and communications and the influence of very large multinational companies”.

Term “globalisasi” yang diyakini mulai marak pada pertengahan dasawarsa 80-an dan dipopulerkan oleh Theodore Levitt tahun 1985 telah bergeser dan meluas pengertian dan maknanya yang dulunya hanya sekedar merujuk pada bidang politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Paling tidak presiden Amerika Serikat saat itu, Ronald Reagen telah melontarkan ide ide seperti “revolusi neoliberal” yang salah satu tujuan utamanya adalah membiayai berbagai ragam program persenjataan Amerika Serikat dalam pertempurannya dengan blok timur atau yang lebih dikenal dengan nama blok komunis.
Sehubungan dengan hal tersebut Wayne Ellwood menyatakan:
… around 1980 things began to change with the emergence of fundamentalist free-market governments in Britain and the US and the later disintegration of the state-run command economy in the former Soviet Union. The formula for economic progress adopted by the administrations of Margaret Thatcher in the UK and Ronald Reagan in the US called for a drastic reduction in the regulatory role of the state. Instead, government was to take a back seat to corporate executives and money managers. The overall philosophy was that companies must be free to move their operations anywhere in the world to minimize costs and maximize returns to investors. Free trade, unfettered investment, deregulation, balanced budgets, low inflation and privatization of publicly-owned enterprises were trumpeted as the six-step plan to national prosperity.
Buku “The World is Flat” juga menyibak gambaran berjalannya peradaban dunia saat ini. Jika Colombus berhasil membuktikan bahwa dunia ini bulat, maka Friedman secara ironis telah “membuktikan” bahwa dunia ini datar. Saat ia menuju India dengan menumpang Lufthansa yang tentunya mempunyai GPS sebagai penunjuk arah yang tepat, ia telah menghindari kesalahan yang dilakukan Colombus yang telah keliru dalam “memperhitungkan” jarak. Kehidupan yang dia jalani di sudut kota Bangalore, India tak ubahnya dengan sudut kota Kansas. Lapangan golf tempat ia bermain tak ubahnya sudut sudut yang ia kenal. Beberapa nama brand ada disana seperti Microsoft, IBM, HP, Goldman Sachs, juga Texas Instruments, Bahkan sang Caddy memakai topi 3M serta nama nama yang familiar baginya seperti Epson yang ada pada penanda tee golfnya. Pada rambu lalu lintas malahan tertera tulisan Texas Instruments, serta papan billboard Pizza Hut yang bertuliskan “Gigabites of Taste”.
Yang membuat Columbus dan Friedman “berbeda” salah satunya adalah aspek pencariannya. Columbus mencari “hardware” atau hasil bumi, sementara Friedman mencari “software” India yakni kekuatan otak, algoritma kompleks, pekerja intelektual, pusat layanan informasi dan terobosan baru teknologi serat optik sebagai sumber kekayaan masa kini. Yang membuat perjalanan ini menarik adalah rasa terkaget kagetnya Friedman saat orang India yang ditemuinya beraksen Amerika, menggunakan nama Amerika, juga menggunakan teknik bisnis ala Amerika. Dengan demikian Friedman menyimpulkan “Orang India” yang dia temukan telah mengambil alih pekerjaannya, pekerjaan orang-orang di negaranya dan juga negara industri lain. Jika Columbus secara tidak sengaja menemukan Amerika yang dia kira bagian dari India, Friedman justru menemukan India dan mengira bahwa yang dia temui adalah bagian dari Amerika!! Dengan demikian Friedman telah membuktikan bahwa dunia ini sudah jadi datar.
Globalisasi pada kenyataannya telah berlangsung sejak lama. Wayne Ellwood menyebutkan bahwa proses globalisasi paling tidak sudah dimulai lebih dari lima abad yang lalu. Sementara itu menurut Friedman dalam bukunya “The World is Flat” diutarakan bahwa pada saat ini masyarakat dunia masuk ke dalam globalisasi “versi 3.0”. Globalisasi versi 1.0 dianggapnya dimulai pada era kolonialisme, sehingga dikatakannya bahwa negara kolonial sebagai pihak yang diuntungkan. Globalisasi versi 1.0 ini ditandai dengan perjalanan kelas dunia dari Columbus di tahun 1492, serta pergerakan lain hingga era 1800-an. Proses ini dianggap menjadikan dunia menyusut dari ukuran besar ke sedang. Globalisasi tipe ini berkaitan dengan negara serta otot. Pelaku utama serta kekuatan penyatuan global ialah seberapa gigih, seberapa besar otot, seberapa besar tenaga kuda, tenaga angin, tenaga uap yang dipunyai suatu negara. Dengan demikian, motor penggerak globalisasi versi awal ini adalah adalah meng-globalnya negara.
Pada globalisasi versi 2.0 ditandai dengan munculnya perusahaan “Multi-National Company (MNC)”. Globalisasi versi ini berlangsung antara kurun waktu 1800 hingga 2000. Era ini menjadikan dunia menyusut dari ukuran sedang menjadi ukuran kecil. Dalam globalisasi tipe ini pelaku utama dan kekuatan penyatuan global tak lain adalah perusahaan-perusahaan multinasional. Perusahaan-perusahaan tersebut mengglobal dan mendunia demi pasar dan tenaga kerja. Pada masa awal, penyatuan global dimotori jatuhnya biaya pengangkutan berat mesin uap dan kereta api. Berikutnya dimotori oleh jatuhnya biaya telekomunikasi berkat penyebaran telegraf, telepon, PC, satelit, serat optik, Word Wide Web versi awal. Terjadi pasar global dengan adanya pergerakan barang, jasa, informasi dan tenaga kerja dari benua ke benua. Motor penggerak Globalisasi 2.0 adalah meng-globalnya perusahaan.
Versi terakhir dari globalisasi, yakni versi 3.0 sudah tidak terlalu menyoal tentang kewarganegaraan atau menjadi bagian dari MNC melainkan aspek pemberdayaan individu yang didukung oleh kekuatan dari “Information Technology” lah yang paling utama. Globalisasi versi 3.0 dimulai tahun 2000, yang menyusutkan dunia dari ukuran kecil menjadi sangat kecil dan mendatarkan lapangan permainan. Era yang memungkinkan memberdayakan dan melibatkan individu serta kelompok kecil untuk dengan mudah menjadi global dengan sebutan “tatanan dunia datar” (flat world platform). Contoh nyatanya adalah konvergensi (penyatuan) antara komputer pribadi yang memungkinkan setiap individu dalam waktu singkat menjadi penulis materi mereka sendiri secara digital, serat optik yang memungkinkan mereka untuk mengakses lebih banyak materi materi di seluruh dunia dengan murah, serta workflow software yang memungkinkan individu-individu di seluruh dunia untuk bekerja bersama-sama mengerjakan suatu materi digital dari manapun, tanpa menghiraukan jarak antar mereka. Motor penggerak Globalisasi 3.0 adalah kekuatan baru yang ditemukan untuk bekerjasama dan bersaing secara individual dalam kancah global. Dengan demikian, Wayne Ellwood yang menyebutkan bahwa proses globalisasi paling tidak sudah dimulai lebih dari lima abad yang lalu, rasanya memang beralasan.
Jika Friedman membagi masyarakat menjadi tiga versi, Marshal McLuhan, media-guru dari University of Toronto memetakan sejarah kehidupan manusia ke dalam empat periode yakni: a tribal age (era suku atau purba), literate age (era literal/huruf), a print age (era cetak), dan electronic age (era elektronik). Menurutnya, transisi antar periode tadi tidaklah bersifat bersifat gradual atau evolusif, akan tetapi lebih disebabkan oleh penemuan teknologi komunikasi.
Era pertama atau “The Tribal Age” dipandangnya sebagai era purba, saat manusia hanya mengandalkan indera pendengaran dalam berkomunikasi. Jadi, telinga adalah “raja” ketika itu, sehinnga pepatah “hearing is believing” adalah ciri khasnya. Komunikasi pada era itu hanya mendasarkan diri pada narasi, cerita, dongeng tuturan, dan sejenisnya. dan kemampuan visual manusia belum banyak diandalkan dalam komunikasi. Era primitif ini kemudian tergusur dengan ditemukannya alfabet atau huruf sebagai penanda dimulainya the “age of literacy”. Era kedua atau “The Age of Literacy” diukur saat orang mulai menemukan alfabet atau huruf, sehingga muncul perubahan dalam cara kita berkomunikasi. Manusia berkomunikasi tidak lagi mengandalkan tuturan, tapi lebih kepada tulisan. Dengan demikian, indera penglihatan akhirnya menjadi dominan di era ini, mengalahkan indera pendengaran. Era ketiga atau “the Print Age” memandang mesin cetak sebagai faktor yang menjadikan tulisan bisa menjadi sumber inspirasi hingga belahan dunia lain. Mesin cetak mengubah wajah dunia sehingga kata kata menjadi sebuah kekuatan yang utama. Kehadiran mesin cetak, dan kemudian media cetak, menjadikan manusia lebih bebas lagi untuk berkomunikasi. Era terakhir atau “the Electronic Age” memandang penemuan penemuan terkini semisal telegram, telepon, radio, film, televisi, VCR, fax, komputer, dan internet, sebagai faktor yang sangat menentukan. Manusia kemudian menjadi hidup di dalam apa yang disebut sebagai “global village”. Media massa pada era ini mampu membawa manusia mampu untuk bersentuhan dengan manusia yang lainnya, kapan saja, di mana saja, seketika itu juga.
McLuhan menekankan inti permasalahan pada term “teknologi”. Beragam “hi-tech innovation” dalam teknologi komunikasi dan informatika-lah yang sebetulnya telah mengubah wajah kebudayaan manusia. Jika Karl Marx, penulis “Das Kapital” menyebut bahwa “sejarah ditentukan oleh kekuatan produksi,” maka McLuhan lebih menyoroti pada perubahan mode komunikasi-lah yang mentransformasi bentuk eksistensi manusia. Bahkan, tidak terlihat lagi satu segi kehidupan manusia pun yang tidak bersinggungan dengan media massa. Mulai dari ruang keluarga, dapur, sekolah, kantor, pertemanan, bahkan agama, semuanya berkaitan dengan media massa. Hampir-hampir tidak pernah kita bisa membebaskan diri dari media massa dalam kehidupan kita sehari-hari.
Marshall McLuhan, menyatakan bahwa the medium is the mass-age. Media adalah era massa. Ini berarti saat ini manusia hidup di era yang unik dalam sejarah peradaban manusia, yaitu era media massa, atau era media elektronik!! Media pada hakikatnya telah benar-benar mempengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertingkah laku manusia itu sendiri. Dapat disimpulkan bahwa saat ini kita berada pada era revolusi, yakni revolusi masyarakat menjadi massa, oleh karena kehadiran media massa tersebut!
Sementara itu, cakupan dan proses globalisasi diidentifikasikan oleh Arjun Appadurai dalam 5 (lima) tipe saling keterkaitan global yakni Ethnoscapes, Financescapes, Ideoscapes, Mediascapes, dan Technoscpes. Dari paparan diatas makin dapat dipahami bahwa globalisasi merupakan suatu fase sejarah yang ingin menghilangkan batas ruang dan waktu dalam kehidupan manusia yang meliputi aspek ekonomi, komunikasi, politik, dan sosial.
McLuhan juga menyebutkan bahwa media massa adalah ekstensi atau perpanjangan dari inderawi manusia (extention of man). Media tidak hanya memperpanjang jangkauan kita terhadap suatu tempat, peristiwa, informasi, tapi juga menjadikan hidup kita lebih efisien. Lebih dari itu media juga membantu kita dalam menafsirkan tentang kehidupan kita. Pada bukunya yang berjudul “Medium is the message” dalam sudut pandang McLuhan, fungsi atau peran media itu sendiri lebih penting daripada isi pesan yang disampaikan oleh media tersebut. Misalkan saja, mungkin isi tayangan di televisi memang penting atau menarik, akan tetapi sebenarnya kehadiran televisi di ruang keluarga tersebut menjadi jauh lebih penting lagi. Televisi, dengan kehadirannya saja sudah menjadi penting, bukan lagi tentang isi pesannnya. Kehadiran media massa telah lebih banyak mengubah kehidupan manusia, lebih dari apa isi pesan yang mereka sampaikan.
Dengan demikian, masalah yang nanti muncul berkaitan dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi adalah manusia terlihat didominasi oleh teknologi komunikasi atau alat yang diciptakannya sendiri. Teknologi komunikasi menjadi tampak seperti mengontrol kita!! Sebagai contoh, betapa gelisahnya kita kalau sampai terlewat satu episode sinetron kesayangan yang biasanya kita tonton tiap hari. Atau mungkin kalau kita sudah lebih dari seminggu tidak mengupdate situs halaman facebook, twitter, atau menonton serial TV kesukaan kita di internet. Satu hari saja tidak mengikuti favorit tertentu membuat seakan akan kita telah jauh tertinggal banyaknya informasi di hari itu atau fear of missing update.
Kehadiran media massa, dan segala kemajuan teknologi komunikasi yang lainnya, seharusnya menjadikan kehidupan manusia lebih baik. Namun ketika yang terjadi justru sebaliknya, kita menjadi didominasi oleh media massa dan teknologi komunikasi yang semakin pesat tersebut, maka ini menjadi sebuah ironi.
Dengan kata lain, setiap penduduk di muka bumi ini adalah masyarakat dunia yang tidak lagi memiliki batas territorial. Karenanya, ia bebas melanglang buana ke seluruh penjuru dunia. Hal ini setidaknya disebabkan oleh dampak langsung dari keberhasilan revolusi teknologi-komunikasi, setelah didahului oleh dua revolusi dalam kebudayaan manusia, yaitu revolusi pertanian dan revolusi industri. Namun demikian, revolusi ini tidak berlaku secara merata di seluruh dunia. Karena itu, tingkat kemajuan suatu bangsa tidak sama. paling tidak, negara-negara Barat adalah lebih dahulu melewati fase revolusi pertanian dan industri yang karenanya menyebabkan mereka terdepan dalam era globalisasi. Oleh karena itu, maka yang terbayang dalam benak kita adalah westernisasi atau bahkan Amerikanisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Friedman, Thomas L. 2009. The World is Flat: Sejarah Ringkas Abad Ke-21. Jakarta; Dian Rakyat

Griffin, Emory A. 2003. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw-Hill

Michael Rundell et.al (ed.), 2002. Macmillan English Dictionary for Advanced Learners. Oxford : Bloomsbury Publishing

Priyo, Utomo, Eko. 2012. From Newbie to Advanced. Yogyakarta: Andi

Mc Luhan,. Marshal Understanding Media: The Extensions of Man (McGraw-Hill, 1964)

Suprapto, Sri Ruspita Murni, Ngadimin Winata (et.al). 2007. Pendidikan Kewarganegaraan SMA jilid 3. Jakarta: Bumi Aksara

Zarkasyi, Hamid Fahmy. 2008. Liberalisasi Pemikiran Islam–Gerakan Bersama Missionaris, Orientalis, dan Kolonialis. (Ponorogo: CIOS-ISID Gontor

THE ANALYSIS OF SHAKESPEARE’S DRAMA“AS YOU LIKE IT” BASED ON INTRINSIC ELEMENTS


 

THE ANALYSIS OF SHAKESPEARE’S DRAMA“AS YOU LIKE IT” BASED ON INTRINSIC ELEMENTS

FERRY ISMAWAN

 

               

 

CHAPTER 1

INTRODUCTION

“As You Like It” is a pastoral comedy by William Shakespeare[1] believed to have been written in 1599 or early 1600 and first published in the folio of 1623.  As You Like It will be for many of us, a rather difficult play to appreciate and interpret simply on the basis of a reading. The reasons for this are not difficult to ascertain. As You Like It is clearly a pastoral comedy[2]—with a country setting, much talk of love of all sorts, a story which consists, for the most part, of a series of accidental meetings one after the other, and a resolution involving transformations of character and divine intervention. Although (as we shall see) the Forest of Ardenne is not a completely idealized pastoral setting, we have here all the standard ingredients of pastoral drama. The work was based upon the early prose romance Rosalynde by Thomas Lodge.

The play’s first performance is uncertain, though a performance at Wilton House in 1603 has been suggested as a possibility. “As You Like It” is regarded as one of the great comedy plays by William Shakespeare. One of the reason is that the heroine, Rosalind, is one of his most inspiring characters and has more lines than any of Shakespeare’s female characters. Rosalind, the daughter of a banished duke falls in love with Orlando the disinherited son of one of the duke’s friends. When she is banished from the court by her usurping uncle, Duke Frederick, Rosalind takes on the appearance of a boy calling herself Ganymede. She travels with her cousin Celia and the jester Touchstone to the Forest of Arden, where her father and his friends live in exile.

 

 

CHAPTER II

THE ANALYSIS OF “AS YOU LIKE IT” BASED ON INTRINSIC ELEMENTS: A TEXTUAL ANALYSIS

 

1. Theoretical Framework

There are lots things that can be analyzed in this play. Although, there are some theories to approach this play, I would like to start from Rosalind’s disguise as the youth Ganymede for the first time. This “disguise” continues to intrigue modern scholars, particularly as it relates to the theme of sexual identity. Philip Traci (1981) has asserted that although the characters themselves are heterosexual, the dramatization of Rosalind’s multiple identities reveals the homosexual side of  As You Like It, especially when the role is performed by a boy actor, as it was in Elizabethan times.

However, the issue is much more complicated than that. For Rosalind’s assumed name, Ganymede, is a very deliberate reference to the young male lover Zeus carried up to Olympus, and it points us to what might be a very strong element in the courtship game between Orlando and Rosalind and in the feelings Phoebe has for Rosalind, namely homoerotic desire. There’s little in the play to suggest this explicitly, but a production which showed, say, that Orlando’s feelings were becoming involved with Ganymede, so that the pretend courtship has a strongly erotic undercurrent, would not be violating the text. Perhaps it’s hard to distinguish totally between Orlando’s feelings for Rosalind and Orlando’s feelings for Ganymede. And that challenges all sorts of conventional expectations about erotic love, in order to “probe the surprisingly complex issue of what is natural in matters of love and sexual desire”[3]

Analyzing the impact that homosexuality had on families, sex, and marriage in early modern England, Mario Di Gangi (1996) has relied on the Ganymede myth, a narrative that recounts Jupiter’s desire for his page Ganymede[4] as a replacement for his wife, Juno. Di Gangi has contended the myth, used by Shakespeare as a “parable of conflict between husbands and wives,” reflected the Renaissance culture’s promotion of male homoeroticism and fear of female sexuality. Thus, Rosalind’s male disguise permits her to “test the sincerity of Orlando’s love” and assuage her fears of post marital sexual rejection.

Other theory I would like to propose is based on William J. Goode’s book “The Family”. He states:

In all known societies, almost everyone lived his life enmeshed in a network of family rights and obligations called role relation. A person is made aware of his role relations through a long period of socialization during his childhood, a process in which he learns how others in his family expect him to behave, and in which he himself comes to feel this is both the right and the desirable way to act.[5]

 

Orlando is the best example in giving the quotation about family. Consider this:

I am more proud to be Sir Rowland’s son,
… change that calling
To be adopted heir to Frederick. (1.2.232)

 

Or we might wonder that in most cases “love and care” even take in the wrong position of place and any other dimensions.. What I mean here is that sometimes, someone whom we might not care about how we are, in fact has the strong feeling than we thought. Consider this line from Adam:

But do not so. I have five hundred crowns,
… a younger man
In all your business and necessities. (2.3.38)

 

The two above quotations perhaps can be interpreted as the common thought about family. The first quotation that “blood is thicker than pride, or the desire for prestige” – at least among the honorable is very popular. This is particularly interesting, given that Oliver will soon tell Duke Frederick that he does not love his brother. However, the second quotation seems more interesting because it can be clearly seen that: Adam loves Orlando because the boy carries the traits of his father, Sir Rowland. It is this love that transcends the traditional relationship of a master to a servant; Adam is like the family that Orlando lacks in his blood relations. When the “master” can no longer take care of the servant, the servant cares for him; there is much more of a paternal relationship here than one rooted in servitude. Also, think of how Orlando fends for Adam once Adam has become weak with hunger and weariness. It is like a child taking care of an aging parent, where once the parent cared for the child.

 

2. Plot Synopsis

In analyzing drama and other works, there are some intrinsic elements we need to consider such as theme, setting, character and plot. Plot also consists of exposition, conflict, complications, rising action, climax, falling action and resolution. In a literary term, a plot is all the events in a story particularly given toward the achievement of some particular artistic or emotional effect or general theme. Plot refers to the series of events that give a story its meaning and effect.

It is widely accepted that all stories are unique, and in one sense there are as many plots as there are stories. In one general view of plot, however—and one that describes many works of fiction—the story begins with rising action as the character experiences conflict through a series of plot complications that entangle him or her more deeply in the problem. This conflict reaches a climax, after which the conflict is resolved, and the falling action leads quickly to the story’s end.  Things have generally changed at the end of a story, either in the character or the situation; drama subsides, and a new status quo is achieved. It is often instructive to apply this three-part structure even to stories that don’t seem to fit the pattern neatly. Complication is the plot events that plunge the protagonist further into conflict. Rising action is the part of a plot in which the drama intensifies, rising toward the climax. Climax is the plot’s most dramatic and revealing moment, usually the turning point of the story. Falling action is the part of the plot after the climax, when the drama subsides and the conflict is resolved

 

  • Exposition

Exposition is the beginning of the plot concerned with introducing characters and setting. This element may be largely presented at the beginning of the story, or occur as a sort of incidental description throughout. Exposition may be handled in a variety of ways—perhaps a character or a set of characters explain the elements of the plot through dialogue or thought. In this work, the story begins when Frederick has usurped the Duchy and exiled his older brother, Duke Senior. The Duke’s daughter Rosalind has been permitted to remain at court because she is the closest friend and cousin of Frederick’s only child, Celia. In this exposition, Shakespeare uses interesting way to give the opening or the exposition of a drama.

 

  • Raising Action and conflicts

Rising Action is the central part of a story during which various problems arise, leading up to the climax. Conflict is the “problem” in a story which triggers the action. Conflict is also the basic tension, predicament, or challenge that propels a story’s plot.   Basically, there are five basic types of conflict: Person vs. Person: One character in a story has a problem with one or more of the other characters; Person vs. Society: A character has a conflict or problem with society; Person vs. Him or Herself: A character struggles inside and has trouble deciding what to do; Person vs. Nature: A character has a problem with some element of nature, a snowstorm, avalanche, bitter cold; Person vs. Fate A character has to battle what seems to be an uncontrolled

 

It will take pages to spotlight all kinds of conflicts in this play. However, I will give two examples of conflicts that appear on this Shakespeare’s drama. In this work, Orlando is described as a young gentleman of the kingdom who has fallen in love at first sight of Rosalind, who is forced to flee his home after being persecuted by his older brother, Oliver. This could be one of among conflicts which support one of the basic types of conflict: Person vs. Person: One character in a story has a problem with one or more of the other characters appear on this drama. The first type of conflict happens between Orlando and Oliver. As we know, before Sir Rowland de Boys died, he made Oliver, his eldest son, promise to rear and educate Orlando, his youngest son. But after Sir Rowland’s death, Oliver virtually imprisons Orlando in their home. The younger brother receives no schooling, no guidance, and almost no money–unlike a third brother, Jaques, who lives away at school, prospering. In the orchard of Oliver’s house, Orlando complains to Adam, an old servant, that Oliver even pays more attention to his horses. When Oliver enters the orchard, Orlando tells him:

My father charged you in his will to give me good education: you have trained me like a peasant, obscuring and hiding from me all gentleman-like qualities. The spirit of my father grows strong in me, and I will no longer endure it; therefore allow me such exercises as may become a gentleman, or give me the poor allottery my father left me by testament; with that I will go buy my fortunes. (1. 1. 23)

 

Other conflict can be seen when Frederick becomes angry and banishes Rosalind from court after knowing that Orlando is the son of Sir Rowland, who was a friend of the banished Duke Senior. Later, when Rosalind and Celia are discussing Orlando, Frederick bursts in and banishes Rosalind, for she reminds him too much of her father, Duke Senior, and his late friend, Sir Rowland. Frederick declares:

Within these ten days if that thou be’st [be] found
So near our public court as twenty miles,
Thou diest for it. (1. 3. 27-29) 

 

Celia and Rosalind decide to flee together accompanied by the jester Touchstone, with Rosalind disguised as a young man. Rosalind, now disguised as Ganymede (“Jove‘s own page”), and Celia, now disguised as Aliena (Latin for “stranger”), arrive in the Arcadian Forest of Arden, where the exiled Duke now lives with some supporters, including “the melancholy Jaques,” who is introduced to us weeping over the slaughter of a deer. “Ganymede” and “Aliena” do not immediately encounter the Duke and his companions, as they meet up with Corin, an impoverished tenant, and offer to buy his master’s rude cottage.

Orlando and his servant find the Duke and his men and are soon living with them and posting simplistic love poems for Rosalind on the trees. Rosalind, also in love with Orlando, meets him as Ganymede and pretends to counsel him to cure him of being in love. Ganymede says “he” will take Rosalind’s place and “he” and Orlando can act out their relationship.

Few of the best conflicts in this work can be seen when the shepherdess Phebe, with whom Silvius is in love, has fallen in love with Ganymede (actually Rosalind), though “Ganymede” continually shows that “he” is not interested in Phebe. The cynical Touchstone has also made amorous advances towards the dull-witted goat-herd girl Audrey, and attempts to marry her before his plans are thwarted by the intrusive Jaques. Finally, Silvius, Phebe, Ganymede, and Orlando are brought together in an argument with each other over who will get whom. Ganymede says he will solve the problem, having Orlando promise to marry Rosalind, and Phebe promise to marry Silvius if she cannot marry Ganymede. The next day, Ganymede reveals himself to be Rosalind, and since Phebe has found her love to be false, she ends up with Silvius.

 

  • Climax

Climax is the high point of the story, where a culmination of events creates the peak of the conflict. The climax usually features the most conflict and struggle, and usually reveals any secrets or missing points in the story. Alternatively, an anti-climax may occur, in which an expectedly difficult event is revealed to be incredibly easy or of paltry importance. Critics may also label the falling action as an anti-climax, or anti-climactic. The climax isn’t always the first important scene in a story. In many stories, it is the last sentence, with no successive. While at the cottage, Oliver falls in love with Celia, and they vow to marry the next day. Rosalind (as Ganymede) goes to Orlando and tells him she is versed in magic and will conjure up Rosalind the following day so that he can marry her. On the appointed day, Rosalind appears as herself while the wedding guests, including Duke Senior and his followers look on. By this time, Touchstone has found a love of his own–Audrey, a country wench. In addition, Phebe, through a little trickery worked by Rosalind, agrees to marry Silvius. Thus, on the wedding day, four couples exchange vows: Orlando and Rosalind, Oliver and Celia, Silvius and Phebe, and Touchstone and Audry.

While at the cottage, Oliver falls in love with Celia, and they vow to marry the next day. Rosalind (as Ganymede) goes to Orlando and tells him she is versed in magic and will conjure up Rosalind the following day so that he can marry her. On the appointed day, Rosalind appears as herself while the wedding guests, including Duke Senior and his followers look on. By this time, Touchstone has found a love of his own–Audrey, a country wench. In addition, Phebe, through a little trickery worked by Rosalind, agrees to marry Silvius. Thus, on the wedding day, four couples exchange vows: Orlando and Rosalind, Oliver and Celia, Silvius and Phebe, and Touchstone and Audry.

 

  • Denounement and Resolution

The falling action is the part of a story following the climax. This part of the story shows the result of the climax, and its effects on the characters, setting and proceeding events. Critics may label a story with falling action as the anti-climax or anti-climactic if they feel that the falling action takes away from the power of the climax. We can see the falling action when Orlando sees Oliver in the forest and rescues him from a lioness, causing Oliver to repent for mistreating Orlando. Also consider when Oliver meets Aliena (Celia’s false identity) and falls in love with her, and they agree to marry. Orlando and Rosalind, Oliver and Celia, Silvius and Phebe, and Touchstone and Audrey all are married in the final scene

In fiction, a denouement consists of a series of events that follow the climax, and thus serves as the conclusion of the story. Conflicts are resolved, creating normality for the characters and a sense of catharsis, or release of tension and anxiety, for the reader. Simply put, dénouement is the unraveling or untying of the complexities of a plot. Be aware that not all stories have a resolution.

Orlando sees Oliver in the forest and rescues him from a lioness, causing Oliver to repent for mistreating Orlando. Oliver meets Aliena (Celia’s false identity) and falls in love with her, and they agree to marry. Orlando and Rosalind, Oliver and Celia, Silvius and Phebe, and Touchstone and Audrey all are married in the final scene, after which they discover that Frederick has also repented his faults, deciding to restore his legitimate brother to the dukedom and adopt a religious life. Jaques, ever melancholy, declines their invitation to return to the court preferring to stay in the forest and to adopt a religious life.

  1. 3.        Character

Character[6] is one of the most important aspects in a plot. In his book Aspects of the novelE. M. Forster defined two basic types of characters, their qualities, functions, and importance for the development of the novel: flat characters and round characters.[7] Flat characters are two-dimensional in that they are relatively uncomplicated and do not change throughout the course of a work. By contrast, round characters are complex and undergo development, sometimes sufficiently to surprise the reader. We need to use the definition from Forster because we can see some changes in character in this play such as Oliver and Frederick who used to be mean turns out to be a better person on the end of the play. We also need to consider how Rosalind’s characters in coloring this play with two identities: as Rosalind herself and as Ganymede.

 

  • Main Character

Following the theory of division of characters as Protagonist and Antagonist, we can clearly judge that the Protagonist is Rosalind and the Antagonist: is Duke Frederick. Rosalind who is a  daughter of Duke Senior, is the ideal heroine since she has the qualities of being intelligent, beautiful, courageous, cheerful and morally upright.   Also the best Rosalind’s company, Celia who is the daughter of Duke Frederick and good friend of Rosalind can complete the central character in the play. We can see these two figures in many occasions. At Duke Frederick’s behest, Rosalind is to serve as a companion for his daughter, Celia. It so happens that Rosalind has a sympathizer in Celia, for the two of them have been best friends since childhood. Whenever Rosalind pines for her missing father, Celia is there to comfort her. Look the quotation below:

“I pray thee, Rosalind, sweet my coz, be merry” (1. 2. 3).

The above quotation shows how these two characters need each other, and for some extent it can arouse multiple interpretation such as homosexuality had on families, sex, and marriage like what I have mentioned earlier in the theoretical framework. Celia also says:

Herein I see thou lov’st me not with the … were so righteously temper’d
as mine is to thee. (1.2.9)

 

The above lines better interpreted as Celia values her relationship to Rosalind above all else; she would even forego her own father for the girl (which she later does).

Another important character is Duke Senior who is described as a rightful duke living in banishment with his followers in the Forest of Arden. He is reminiscent of Robin Hood. Consider also the antagonist’s character, Duke Frederick, Duke Senior’s brother, who usurps Senior’s dominions.   Other major characters are Orlando, Oliver: Sons of Sir Rowland de Boys. Orlando is in love with Rosalind, daughter of Duke Senior. Oliver, the eldest son, maltreats Orlando and denies him his full share in their father’s bequest. However, Oliver knows he has no reason to hate his brother, except that Orlando is (implicitly) regarded better than he is. If the two did not have that strange, innately competitive relationship of being brothers, Oliver might not hate him. Consider this line :

I hope I shall see an end of him; … who best know him, that I am altogether misprised. (1.1.164)

 

  • Supporting Characters

There are many supporting character in this play, but due to the limited pages, they will not be discussed further here. Le Beau is a courtier attending upon Frederick.   Charles is a wrestler in the service of Frederick.   Adam is the servant of Oliver. Adam, an old man who is mistreated by Oliver, makes friend with Orlando.   Touchstone is a clown. His presence in the play makes others react in a way that reveals their qualities; hence, he lives up to his name. Literally a touchstone is a black stone used to assay the purity of precious metals. When a sample believed to contain gold or silver is rubbed against a touchstone, the sample leaves a streak on the stone. Acid is then used to burn away impurities that adulterate the gold or silver in the sample, leaving behind only the precious metal.

 

4. Setting

A setting is the time place and social environment a story takes place.[8] In fiction, setting includes the timelocation, and everything in which a story takes place, and initiates the main backdrop and mood for a story. Setting has been referred to as story world.[9]  Elements of setting may include culturehistorical periodgeography, and hour. Along with plot, character, theme and style, setting is considered one of the fundamental components of fiction.

 

 

  • Physical Setting  

A. Time Setting

The concept of time in As You Like It remains a focus of modern critics. Although the Forest of Arden has frequently been hailed as a timeless refuge where the inhabitants “fleet the time carelessly, as they did in the golden world” (I.i.118-19), recent criticism has focused on alternative views. Frederick Turner (1971) has suggested that time itself has not been eliminated, but that the “measurable, social time of clocks” has transmuted into diverse modes of time that reflect the characters’ perceptions: the personal, subjective time that rules Rosalind and Orlando, the historical, objective time that Jacques embraces, and the natural, biological time that governs Touchstone. Arguing for the existence of “more than one ‘time-sense'” in the play, Rawdon Wilson (1975) has examined the shift from objective to subjective time, noting that it marks not only the journey from the court to the forest, but the characters’ attitudes toward change as well. Harry Morris (1975) has delved into the darker aspects related to the subject of time in As You Like It—death and decay. According to Morris, Touchstone is the initiator of the “death-in-Arcadia motif,” the agent of time. His announcement, “Ay, now am I in Arden,” echoes the expression, “Ay, now am I in Arcadia,” the translated version of et in Arcadia ego. This phrase was inscribed on the tomb of a shepherd found in seventeenth-century pastoral paintings by both Guercino and Nicolas Poussin, nearly twenty-five years after As You Like It was written. Morris nevertheless has speculated that perhaps an earlier source was available to Shakespeare, given the parallels between the death elements in the paintings—the skull, the dead shepherd, and all-devouring time—and those found in the Forest of Arden.

 

B. Place Setting

The play is set in a duchy in France, but most of the action takes place in a location called the ‘Forest of Arden.’ There is an Arden Forest in Warwickshire, England, and an Ardennes Forest in continental Europe. The latter forest encompasses parts of Belgium, Luxembourg, and France. Thomas Lodge, who wrote a play that Shakespeare used as the source for As You Like It, earned a medical degree in France and practiced medicine in Belgium, not far from the Ardennes forest.

 

C. Metaphorical Setting

Many experts suggest that Arden is most likely a toponym for a forest close to Shakespeare’s home town of Stratford-upon-Avon. The Oxford Shakespeare edition rationalises this geographical discrepancy by assuming that ‘Arden’ is an anglicisation of the forested Ardennes region of France (where Lodge set his tale) and alters the spelling to reflect this. Other editions keep Shakespeare’s ‘Arden’ spelling, since it can be argued that the pastoral mode depicts a fantastical world in which geographical details are irrelevant. The Arden edition of Shakespeare makes the suggestion that the name ‘Arden’ comes from a combination of the classical region of Arcadia and the biblical garden of Eden, as there is a strong interplay of classical and Christian belief systems and philosophies within the play. Furthermore, Shakespeare’s mother’s name was Mary Arden, and the name of the forest may also be a pun on that

 

  1. 4.        Themes

Themes are the fundamental and often universal ideas explored in a literary work. Themes about life and love, including aging, the natural world, and death are included in the play. The most obvious concern of As You Like It is love, and particularly the attitudes and the language appropriate to young romantic love. This, I take it, is obvious enough from the relationships between Orlando and Rosalind, Silvius and Phoebe, Touchstone and Audrey, and (very briefly) Celia and Oliver. The action of the play moves back and forth among these couples, inviting us to compare the different styles and to recognize from those comparisons some important facts about young love. Other important aspecta are new friends are made and families are reunited. By the end of the play Ganymede, once again Rosalind, marries Orlando. Orlando and Rosalind, Oliver and Celia, Silvius and Phebe, and Touchstone and Audrey all are married in the final scene. Oliver becomes a gentler, kinder young man so the Duke  changes his ways and turns to religion and so that the exiled Duke, father of Rosalind, can rule once again. Act II, Scene 7 features a great soliloquy by William Shakespeare which begins:

“All the world’s a stage
And all the men and women merely players;
They have their exits and their entrances,
And one man in his time plays many parts,
His acts being seven ages…” 

Also consider this quotation from Ganymede/Rosalind: :

Men have died from time to time, and worms have eaten them, but not for love

 

Or consider the quotation when after Touchstone teases Rosalind about how her name is appearing on trees everywhere in the forest, Rosalind (still disguised as Ganymede) crosses paths one day with Orlando and playfully chides him about abusing the trees by carving his poems into them. Then she asks whether his rhymes truly reflect the love that he feels. Orlando replies,

“Neither rime nor reason can express how much” (3. 2. 152).  

That above quotation clearly shows how “love” is one among the themes in this work.

Meanwhile, two other men–Duke Frederick and his younger brother Duke Senior–also live at odds. Frederick had unjustly seized the dukedom of Senior and banished him to the Forest of Arden. There, Senior and his loyal followers learn to live like Robin Hood and his merry men, enjoying all the simple pleasures of a rustic existence. As Senior says,

 

And this our life exempt from public haunt
Finds tongues in trees, books in the running brooks,
Sermons in stones and good in every thing.
I would not change it. (2. 1. 17-20) 

 

5. Motif

Motif is a recurring structure, contrast, or literary device that can help to develop and inform the text’s major themes. The motif which is shown in this play is considered “artifice.  We can see it when Orlando runs through the forest decorating every tree with love poems for Rosalind, and as Silvius pines for Phoebe and compares her cruel eyes to a murderer, we cannot help but notice the importance of artifice to life in Ardenne. Phoebe decries such artificiality when she laments that her eyes lack the power to do the devoted shepherd any real harm, and Rosalind similarly puts a stop to Orlando’s romantic fussing when she reminds him that

“[m]en have died from time to time, and worms have eaten them, but not for love” (IV.i.91–92).

Although Rosalind is susceptible to the contrivances of romantic love, as when her composure crumbles when Orlando is only minutes late for their appointment, she does her best to move herself and the others toward a more realistic understanding of love. Knowing that the excitement of the first days of courtship will flag, she warns Orlando that:

 “[m]aids are May when they are maids, but the sky changes when they are wives” (IV.i.125–127).

Here, Rosalind cautions against any love that sustains itself on artifice alone. She advocates a love that, while delightful, can survive in the real world. During the Epilogue, Rosalind returns the audience to reality by stripping away not only the artifice of Ardenne, but of her character as well. As the Elizabethan actor stands on the stage and reflects on this temporary foray into the unreal, the audience’s experience comes to mirror the experience of the characters. The theater becomes Ardenne, the artful means of edifying us for our journey into the world in which we live.

 

 

 

 

CHAPTER III

CONCLUSION

 

To conclude, therefore, I might say that conflict is not absent from the play totally. It is As You Like It’s knowledge and recognition of the dangers of love as the well-known saying taken from this play, “Men have died from time to time, and worms have eaten them, but not for love” is still relevant until now since we are still capable of being love struck. See these lines:

ROSALIND:
The Duke my father lov’d his father dearly.

 

CELIA:
… that; and do you love him because I do. (1.3.29)

 

It can be explained that although  Celia argues that loving someone like part of your family does not mean you have to love everyone they love. In fact, sometimes it means you have the good sense to know their love is completely unfounded.

To me, this drama deals much with love, such as the idea that love is a disease that brings suffering and torment to the lover, or the assumption that the male lover is the slave or servant of his mistress. These ideas are central features of the courtly love tradition, which greatly influenced European literature for hundreds of years before Shakespeare’s time. In As You Like It, characters lament the suffering caused by their love, but these laments are all unconvincing and ridiculous. In general, As You Like It breaks with the courtly love tradition by portraying love as a force for happiness and fulfillment and ridicules those who revel in their own suffering.

 

As a closing, I would like to cite the line:

ROSALIND
Say ‘a day’ without the ‘ever.’ No, no, Orlando; … hyen, and that when thou are inclin’d to sleep. (4.1.146)

 

which can be understood as “marriage is the death knell to love, or certainly to romance.” The intoxicating happiness of love is about the chase, so once marriage occurs, the game of pursuit is over, making for jealous wives and disappointed husbands.

 

 

 

 

*********

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] William Shakespeare (baptised 26 April 1564; died 23 April 1616) was an English poet and playwright, widely regarded as the greatest writer in the English language and the world’s pre-eminent dramatist. He is often called England’s national poet and the “Bard of Avon”. His surviving works, including some collaborations, consist of 38 plays, 154 sonnets, two long narrative poems, and several other poems. His plays have been translated into every major living language and are performed more often than those of any other playwright.

 

[2] The play is a pastoral comedy, that is, a comedy which involves a traditional literary style of moving sophisticated urban courtiers out into the countryside, where they have to deal with life in a very different manner from that of the aristocratic court. This play, like others in the Pastoral tradition, freely departs from naturalism, and in As You Like It (certainly by comparison with the History plays) there is little attempt to maintain any consistently naturalistic style.

[3] See Jean Howard, Introduction to As You Like It in The Norton Shakespeare.

 

[4] In Greek mythology, Ganymede, is a divine hero whose homeland was Troy. He was a prince, son of the eponymous Tros of Dardania and of Callirrhoe, and brother of Ilus and Assaracus. Ganymede was the most attractive of mortals, which led Zeus to abduct him, in the form of an eagle, to serve as cup-bearer to the gods. For the etymology of his name, Robert Graves‘ The Greek Myths offers ganyesthai + medea, “rejoicing in virility”.

 

[5] William J. Goode. The Family. New Jersey; Prentice-Hall, Inc page 1

[6] The word of character, which is derived from the ancient Greek word kharaktêr can be defined as the representation of a person in a narrative or dramatic work of art (such as a novelplay, or film). Characters may be classified by various criteria: Protagonist, Hero, Anti-Hero, Main character, Antagonist or villain, Minor characters.

 

[7] Michael J Hoffman, Patrick D. Murphy. Essentials of the theory of fiction (2 ed.). Duke University Press, 1996. pp. 36

[8] Raymond Obstfeld. (2002). Fiction First Aid: Instant Remedies for Novels, Stories and Scripts. Cincinnati, OH: Writer’s Digest Books

 

[9] John Truby (2007). Anatomy of a Story: 22 Steps to Becoming a Master Storyteller. New York, NY: Faber and Faber, Inc

ANALISIS KEJIWAAN DR. JEKYLL DALAM NOVEL “THE STRANGE CASE OF DR. JEKYLL AND MR. HYDE” KARYA ROBERT LOUIS STEVENSON


ANALISIS KEJIWAAN DR. JEKYLL DALAM NOVEL “THE STRANGE CASE OF DR. JEKYLL AND MR. HYDE” KARYA ROBERT LOUIS STEVENSON

Ferry Ismawan

 

 

A. PENDAHULUAN

Dr. Jekyll adalah salah satu nama tokoh utama antagonist dalam karya sastra novel dari Robert Louis Stevenson. Novel yang pertama kali dipublikasikan di tahun 1866 ini dianggap sebagai salah satu dari novel horror  terbaik yang menitikberatkan pada kejadian kejadian yang menakutkan yang berasal dari percobaan ilmiah yang dilakukan oleh Dr. Henry Jekyll. Dalam novel yang terdiri atas 11 bab tersebut ditunjukkan jalinan elemen fiksi ilmiah yang sangat kuat, suatu jenis genre sastra yang memfokuskan pada cerita fiksi bagaimana eksperimen ilmiah, serta penemuan penemuan dan teknologi dapat mempengaruhi manusia, baik menjadi lebih baik ataupun malahan menjadi lebih tidak baik.

Jika melihat sumber inspirasi pembuatan novel ini, akan kita dapati bahwa bahwa “the Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde” hanyalah sebuah mimpi pribadi dari Robert Louis Stevenson, pengarangnya. Ketika Stevenson terbangun dari tidurnya, plot cerita novel ini mengkristal dan ditulisnya yang akhirnya menjadi salah satu novel terbaiknya. Belakangan teori psikologi menyebut transformasi dan  perubahan yang terjadi pada Dr. Jekyll adalah salah satu bentuk penyimpangan kepribadian yang terbelah atau “split personality” yang oleh para ahli disebut sebagai “dissociative-identity –disorder” atau istilah jargon nya dari multiple-personality disorder. Si penderita penyakit kejiwaan ini dianggap mempunyai dua atau lebih kepribadian. Sejatinya, kepribadian ganda ini secara ilmiah pernah dilaporkan sekitar beberapa dekade tahun yang lalu dari pasien Dr. Martin Prince yang merahasiakan nama pasien itu dan menyebutnya sebagai Sally Beauchaump.[1] Referensi terbaru juga menyatakan kasus kepribadian ganda juga terjadi pada Billy[2] dengan 24 kepribadian dan Sybil [3] dengan 16 kepribadian.

Dalam paper singkat ini, penulis mencoba memformulasikan permasalahan penokohan Dr. Jekyll dalam beberapa konsepsi dan teori teori yang sifatnya mendukung. Dalam term sastra, Edward H. Jones dalam bukunya Outline of Literature : Short Stories, Novels, and Poems menyebutkan bahwa penokohan dikonsepsikan sebagai pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Sedangkan Robert Stanton dalam bukunya An Introduction to Fiction menyebutkan bahwa penggunaan istilah “karakter” sendiri dalam literature bahasa Inggris menyarankan pada dua pengertian yang berbeda, yaitu sebagai tokoh tokoh cerita yang ditampilkan, dan sebagai sikap ketertarikan, keinginan, emosi dan prinsip prinsip moral yang dimiliki oleh tokoh tokoh tersebut.

M.H. Abrams dalam karyanya berjudul A Glossary of Literary Terms menunjukkan kepada pembaca bahwa tokoh cerita atau character adalah orang orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh para pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

Dari kutipan tersebut juga dapat diketahui bahwa seorang tokoh seperti Dr, Jekyll misalnya, dengan kualitas pribadinya berkaitan erat dengan penerimaan pembaca.  Dalam hal ini, khususnya dari pandangan teori resepsi atau penerimaan pembaca, maka kita sebagai pembaca-lah yang memberi arti semaunya. Untuk kasus kepribadian seorang tokoh seperti Dr. Jekyll, pemaknaan itu dilakukan berdasarkan kata kata yang muncul secara verbal ataupun yang muncul secara non verbal melalui tingkah laku, mimik dan gesture tubuh. Perbedaan antara tokoh yang satu dengan yang lain lebih ditekankan oleh kualitas pribadi daripada dilihat secara fisik. [4]

Dalam kamus psikologi, situasi yang dialami oleh Dr. Jekyll ketika menjadi Mr Hyde adalah salah satu bentuk dari multiple personality. Chaplin merumuskan multiple personality sebagai :

“a pathological condition in which the integrated personality fragments into two or more personalities each of which manifests a relatively complete integration of its own and which is relatively independent of the other personalities.[5]

 

B. ANALISA KARAKTER KEPRIBADIAN DR JEKYLL DALAM BEBERAPA KONSEPSI KEJIWAAN

 

1. Sudut Pandang dan Perspektif Penulisan

Dr Henry Jekyll, dalam novel ini digambarkan sebagai seorang dokter yang cukup ternama dan berteman dengan Dr. Lanyon dan Utterson,  pengacara Dr Jekyll. Seperti kita ketahui cerita novel ini disajikan dalam sudut pandang the third person, yakni dari sudut pandang Gabriel John Utterson. Namunpun demikian ada bagian kecil cerita yang disajikan dalam sudut pandang orang pertama yang dilakukan oleh Jekyll dan Lanyon melalui surat yang dibaca oleh Utterson.

2. Beberapa konsepsi tentang kepribadian dan elemen yang melingkupinya

Mengenai ke multikompleksan pribadi Dr Jekyll yang terbelah, penulis mencoba mencari beberapa rujukan dan menghubungkan dengan teori kepribadian, baik kepribadian Islam  mengenai proses atau dinamika kepribadian yang disampaikan oleh Murtadha Muthahhari, juga teori psikoanalisa yang dikemukakan oleh Sigmund Freud. Selain itu, karena satu permasalahan tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja, penulis juga mengutip konsep society-nya Talcott Parsons.

Dari hubungan hubungan sosialisasi yang dibuat oleh Dr. Jekyll, akan kita dapati bahwa jaringan sosial dalam masyarakat dan status sosial sangat berpengaruh dalam menganalisa kepribadian Dr. Jekyll. Menurut Parson masyarakat atau society adalah :

…..sejenis sistem sosial khusus. Kita memperlakukannya sebagai salah satu sub sistem yang utama dalam tindakan manusia, yang lainnya adalah organisme tingkah laku yang ada, sistem kepribadian suatu individu dan sistem kebudayaannya.[6]

Dari kutipan tersebut diatas, penulis mencoba menunjukkan bahwa analisis kejiwaan Dr. Jekyll tidak bisa dilakukan dari satu sisi pendekatan saja, melainkan lebih ke arah multi dimensional.  Karakter Dr. Jekyll selain sebagai sebuah karakter individu juga membentuk kesatuan dalam jalinan kelas dalam masyarakat seperti yang diutarakan oleh Parsons diatas.

Muthahhari menunjukkan bahwa sesuai dengan unsur ciptaannya, manusia selalu berproses, berupaya meningkatkan diri ke arah ruh Allah mendekati tingkat ilahiah, atau jatuh terperosok ke tanah mendekati tingkat hewaniah. Karena manusia terdiri dari jasad, akal dan ruh. Maka itu tinggal dilihat saja mana yang lebih dominan yang dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Yang menarik dari Murtadha Muthahhari adalah, bahwa dia juga menyebutkan tentang Insan Kamil atau Manusia Seutuhnya, yang  kalau oleh Nietzsche disebut dengan Uebermensch (Superman).

Dalam bukunya yang berjudul “Psychopathology of Everyday Life”, Sigmund Freud menjelaskan gejala gejala gangguan (ringan) yang menjurus pada penyakit kejiwaan seperti histeria dan neurosis kompulsif.  Pada awalnya hal ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah, namun ternyata muncullah makna tertentu serta didapati bahwa manifestasi manifestasi gangguan itu sebenarnya bukanlah fenomena yang terjadi secara serampangan, melainkan memiliki keteraturan keteraturan tertentu. Hal ini cukup memberikan jawaban bagaimana Dr Jekyll mendapatkan gangguan gangguan yang makin lama makin tak terkontrol.

Karena sejak mudanya Dr. Jekyll menyukai percobaan ilmiah, maka tidaklah mengherankan bahwa tingkah lakunya sedikit demi sedikit mulai tidak terkontrol dalam ukuran kacamata masyarakat umum. Seringkali dalam novel ini kita temui kutipan kutipan yang menunjukkan adanya gejala gejala gangguan (ringan) yang menjurus pada penyakit kejiwaan seperti histeria dan neurosis kompulsif seperti yang diutarakan Freud.

Saat Dr. Jekyll menemukan sisi gelapnya sebagai sebuah beban, dia berusaha melakukan percobaan untuk memisahkan kepribadian yang baik dan yang buruk. Padahal, jika mengau pada konsep Freud mengenai kepribadian akan didapati bahwa kepribadian itu pada dasarnya terbagi atas tiga sistem yang penting dan semuanya membentuk ketersepaduan. Ketiga sistem itu adalah : id,[7] ego[8] dan superego. [9]

Dalam diri seseorang yang mempunyai jiwa yang sehat, ketiga sistem itu merupakan satu susunan yang yang bersatu dan harmonis. Dengan bekerja sama secara teratur, ke tiga sistem ini memungkinkan seorang individu untuk bergerak secara efisien dan memuaskan keinginan manusia yang pokok.[10] Sebaliknya kala ketiga sistem ini bertentangan satu sama lain, maka orang yang bersangkutan dinamakan orang yang tidak bisa menyesuaikan diri. Ia tidak puas dengan dirinya sendiri dan dengan dunia, dan akibatnya efisiensinya menjadi kurang. [11] Diagram dari Maslow akan mempertegas pemahaman kita mengenai kebutuhan dasar. Diagram Maslow sendiri disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut : 1 Kebutuhan fisiologis atau dasar. 2.Kebutuhan akan rasa aman dan tentram. 3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayang.  4. Kebutuhan untuk dihargai. Terakhir, 5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Sementara dalam kasus Dr. Jekyll, akhirnya ketika ia memunculkan tokoh Mr Hyde ke dalam kenyataan dengan cara mentransformasikan dirinya ke suatu cara yang akhirnya malahan menjadi sisi gelap dari separuh kepribadiannya. Lebih lanjut, Freud menyatakan bahwa garis pemisah antara orang normal dengan orang yang menderita neurosis sangatlah samar dan sulit untuk ditarik secara tegas dan bahwa mekanisme mekanisme psikopatologis yang nampak dengan begitu mencolok pada psikoneurosis dan psikosis biasanya dapat dibuktikan juga terjadi pada orang normal dalam kadar yang lebih ringan. Dengan demikian, perbedaan antara kondisi mental normal dengan kondisi mental abnormal sebenarnya tidaklah setegas seperti yang selam ini ada dalam anggapan kita.

Tokoh Dr. Jekyll ini seolah-olah menghentak kita dengan dualitas sifat manusia, dengan dikotomis hitam-putih nya, baik dan buruk, kaya-miskin, cantik dan jelek yang bahkan masih sangat relevan sampai detik ini. Jekyll mempertegasnya dengan kutipan “Man is not truly one, but truly two”. Dengan demikian kita pun sebagai pembaca akan menyadari bahwa sejatinya tubuh dan pikiran kita adalah sebuah medan pertempuran antara sisi malaikat dan sisi iblis yang masing masing saling berjuang untuk menguasai tubuh. Kasus semacam ini sangat terlihat jelas pada kasus Sybil[12], seorang gadis berusia 37-an tahun yang menderita perpecahan kepribadian sejak kecil, dan William Stanley  Milligan, orang pertama dalam sejarah Amerika yang dianggap tidak bersalah atas berbagai tindakan serius dengan alasan kegilaan, yang lebih dikenal dengan nama pendeknya saja, Billy[13].

C. PENUTUP

Sebagai penutup, dalam paper ini ini penulis ingin menekankann konsep bahwa memahami kepribadian manusia itu tidaklah mudah. Adapun sisi positif dari Freud adalah ia sendiri pun juga belajar untuk tidak memandang alirannya sebagai “yang paling mengerti” tentang kedalaman kepribadian manusia. Dalam paper ini juga dimunculkan istilah represi yang perlu diketengahkan karena Sigmund Freud sebagai penggagasnya mendapatkan tentangan dari teman sejawatnya, Carl Gustav Jung. Penderita sakit kejiwaan ketika ditanya tentang penyebab sakit kejiwaannya seringkali akan menghindar dengan cara berbohong. Kita sering melihatnya walau dalam taraf yang berbeda di program televisi lokal seperti tayangan Uya Memang Kuya atau acara hipnotis yang sering dilakukan Romi Rafael. Saat seorang dalam kondisi tidak sadar karena hipnotis, antara apa yang dipikirkan dalam alam bawah sadarnya akan bertolak belakang dengan apa yang diutarakan dalam alam nyata nya.

Pada bagian berperannya represi, Jung masih sepakat, namun Jung belum bisa menerima penyebab dari represi yang dikatakan Freud berasal dari trauma seksual. Pada penelitian Jung, faktor faktor lain lah yang lebih menonjol ke depan seperti problem adaptasi sosial, tekanan dari kesadaran tragis kehidupan seseorang, pertimbangan gengsi, martabat dan sebagainya. Masalah seksualitas, oleh Jung hanya dianggap memerankan peran subordinat. Namun harus kita akui, bahwa sumbangsih konsep ini sangat unik dan memberikan wawasan lain atas kedalaman kepribadian manusia. Kutipan nya yang cukup terkenal : “kepribadian manusia jauh lebih dalam dan lebih kompleks daripada lapisan kesadaran yang kita kenal” semakin lama semakin teruji.

Dr Jekyll sebagai suatu individu yang berusaha mengontrol kepribadian sisi gelapnya tidak luput dari kekurangan sebagai makhluk biologis. Hyde seringkali bisa melepaskan kontrol atas dirinya. Hal ini senada dengan thesis Freud bahwa pada dasarnya sebagai makhluk biologis, pertama tama yang dimiliki manusia adalah tubuh. Ketika manusia sudah mengenal pergaulan sosial, akal sehat, tingkah laku, adat istiadat, moralitas dan ilmu pengetahuan, maka manusia bertransisi menjadi makhluk sosial.

Sifat dasar manusia yang ingin mencari kepuasan pribadi hinngga ke titik tertinggi ala diagram Maslow, digambarkan dalam pribadi Dr Jekyll yang haus akan ilmu pengetahuan, Science bisa diinterpretasikan sebagai religion bagi orang orang agnostik, dan dengan sendirinya menepikan agama dan moralitas. Dr Jekyll menunjukkan kepada kita bahwa manusia seringkali melanggar batas hitam putih dan melompati batas batas ”etika” dengan dalih “ilmu pengetahuan.”

Dalam hubungannya dengan teori dan analisa individu Dr Jekyll, kita tidak bisa menepiskan anggapan bahwa identitas terjadi melalui interaksi individu dengan orang orang yang penting dalam keluarganya, terkhusus orangtua dan keluarga atau orang terdekat lain. Maka mengutip saran umum kebanyakan, sebaiknya kita lebih mengenal diri sendiri, knowing yourself, gnoti seauthon, sehingga kita akan memiliki apa yang disebut “ego boundaries” yaitu batasan yang jelas tentang darimana diri kita, juga mengetahui dan mengidentifikasi mana yang bukan dirinya. Dari batasan tersebut, terbentuklah “a sense of I-ness” atau “rasa ke aku-an” yang menjadi dasar dari “self” [kepribadian] yang disebut identitas, jika kita tidak ingin mengalamai “krisis identitas”.

Paragraf terakhir akan penulis isi dengan pengulangan pandangan filosofis dari Murtadha Muthahhari, bahwa sesuai dengan unsur ciptaannya, manusia selalu berproses, berupaya meningkatkan diri ke arah ruh Allah mendekati tingkat ilahiah, atau jatuh terperosok ke tanah mendekati tingkat hewaniah. Karena manusia terdiri dari jasad, akal dan ruh. Maka itu tinggal dilihat saja mana yang lebih dominan yang dikembangkan oleh manusia itu sendiri.

 

DAFTAR KEPUSTAKAN

Chaplin, J.P. Dictionary of Psychology. (Dell Publishing Company Inc. New York : 1975)

Freud, Sigmund. Psychopathology of Everyday Life. terjemahan (Yogyakarta : Penerbit Pedati : 2005 )

Hall, Calvin S. Libido Kekuasaan Sigmund Freud. (Yogyakarta : Penerbit Tarawang : 2000)

Keyes, Daniel. 24 Wajah Billy. (Bandung : Penerbit Qanita : 2005)

Schreiber, Flora Rheta.  Sybil. (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan : 2001)

Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. [Yogyakarta : Gadjah Mada University Press ; 2007)

Parsons, Talcott. Societies: Evolutionary and Comparative Perspecives. (New Jersey : Prentice Hall, Inc Englewood Cliffs : 1966)

Stevenson, R.L. Dr Jekyll and Mr Hyde. Abridged and simplified by Norman Wymer (Glasgow : Norman Wymer :  1978)


[1] Lihat  J.P. Chaplin. Dictionary of Psychology. (Dell Publishing Company Inc. New York : 1975) halaman 329

[2] Lihat Daniel Keyes. 24 Wajah Billy  (Bandung : Penerbit Qanita : 2005).

[3] Flora Rheta Schreiber. Sybil. (Jakarta : Gramedia )

[4] Burhan Nurgiyantoro. Teori Pengkajian Fiksi. (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press; 2007) halaman

[5] J.P. Chaplin. Loc.cit

[6] Talcott Parsons. Societies : Evolutionary and Comparative Perspectives. (New Jersey : Prentice Hall Inc, Englewood Cliff : 1966) halaman 5

[7] Fungsi id ini menunaikan prinsip kehidupan yang asli atau yang pertama yang dinamakan prinsip kesenangan (pleasure principle). Tujuan dari prinsip kesenangan ini adalah untuk mengurangi ketegangan. Ketegangan dirasakan sebagai penderitaan. Tujuan dari prinsip kesenangan ini dapat dikatakan terdiri dari usaha mencegah dan menemukan kesenangan

[8] Berlainan dengan id yang dikuasai oleh prinsip kesenangan, ego dikuasai oleh prinsip kenyataan (reality principle). Tujuan prinsip kenyataan adalah untuk menangguhkan peredaan energi sampai benda nyata yang akan memuaskan telah diketemukan atau dihasilkan. Penangguhan suatu tindakan berarti bahwa ego harus dapat menahan ketegangan sampai ketegangan itu dapat diredakan dengan suatu bentuk kelakuan yang wajar. Prinsip kenyataan diladeni oleh suatu proses yang disebut Freud sebagai proses sekunder (secondary process).

[9] Superego lebih mewakili alam ideal daripada alam nyata. Superego terdiri dari dua anak system, ego ideal dan hati nurani. Ego ideal sesuai dengan pengertian-pengertian anak tentang apa yang secara moril dianggap baik oleh orang tuanya. Agar superego itu mempunyai pengawasan terhadap anak seperti yang dmiliki orang tuanya, adalah penting bagi superego untuk mempunyai kekuatan untuk mendesakkan ukuran-ukuran morilnya, dengan jalan penghargaan dan hukuman. Penghargaan dan hukuman ini diberikan kepada ego, karena ego, disebabkan pengawasannya atas tindakan seseorang, dianggap bertanggung jawab untuk terjadinya tindakan-tindakan yang moril dan immoral.

[10]  Calvin S. Hall. Libido Kekuasaan Sigmund Freud. (Yogyakarta : Penerbit Tarawang : 2000) hal 17.

[11] Calvin S. Hall. Ibid.

[12] Dalam novel ini diceritakan tentang kisah nyata Sybil, seorang gadis (berusia 37 tahun-an) yang mengalami perpecahan kepribadian sejak kecil. Setelah seringkali mengalami black out / benar2 lupa atas kejadian yang telah dialami, Sybil pun berobat ke psikiater, Dr Wilbur. Dari sanalah diketahui bahwa didalam tubuh Sybil terdapat 16 “orang” yang lain yang sering “mengambil alih” tubuh Sybil sehingga Sybil mengalami black out. Mereka adalah: Clara, Helen, Marcia, Marjorie, Mary, Mike (laki-laki), Nancy Lou Ann Baldwin, Peggy Ann Baldwin, Peggy Lou Baldwin, Ruthie, Sid (laki-laki), Sybil Ann, Sybil Isabel Dorsett, Vanessa Gaile, Victoria Antoniette Shcarleu (Vicky) dan pribadi terakhir yang tak diketahui namanya.

[13] Novel ini menceritakan riwayat hidup dari William Stanley Milligan atau Billy Milligan, orang pertama dalam sejarah Amerika yang dianggap tidak bersalah atas berbagai tindak kejahatan serius dengan alasan tidak waras. Billy Milligan menderita split personality sehingga dia memiliki 24 kepribadian yang berbeda satu dengan yang lain. Billy Milligan pertama kali memunculkan alter ego-nya pada saat ia berusia 3 tahun. Christine, seorang gadis kecil yang menderita disleksia. Adapun beberapa alter ego yang ternyata beberapa menyelamatkan nyawanya. Pada saat Billy memasuki usia 16 tahun, ia mencoba bunuh diri, tetapi alterego yang bernama ragen ‘(rage again) menghentikan tubuhnya, serta menghindarkan Billy dari percobaan bunuh dirinya. Jumlah alter ego billy ada 24, sepuluh dari mereka adalah “mereka yang diinginkan”, dan sisanya adalah “yang tidak diinginkan”. Perpaduan atau fusi dari semua aler ego tersebut akan memunculkan satu kepribadian, “sang guru”.

ANDAI….


Andai aku nanti pergi ke Kansas, kan ku bawakan cerita dan oleh oleh semangat dan motto orang orang dari negara bagian Paman Sam tersebut yang berbunyi:

“AD ASTRA PER ASPERA”

Yang senada arti dengan “sampai ke bintang dengan jerih payah!”

[sekali lagi, proses itu emang penting, bahkan kadang sampai harus berdarah darah untuk sampai ke tujuan……….]

DAN KITA TIDAK INGIN DISEBUT SEBAGAI “MACHIAVELIS” YANG HANYA PEDULI KEPADA HASIL AKHIR BELAKA, KAN??

ANTARA AKU, KAU DAN ELANG TJ [BUSWAY]


ANTARA AKU, KAU DAN ELANG TJ [BUSWAY]

Banyak yang tidak tahu bahwa maskot yang ada di busway alias TJ adalah Elang Bondol! Sekitar tahun 1989, elang bondol dan salak condet dijadikan maskot Jakarta oleh pemda DKI pada masa Ali Sadikin. Bahkan, keduanya juga menjadi lambang Jakarta Timur. Tapi, coba tanya berapa persen dari kita yang sadar gambar yang menempel di dinding busway ini? Sebagian orang menganggapnya sebagai garuda, sebagian lagi menganggap buah yang dicengkeramnya adalah kelapa!! Sebenarnya, jika mau sedikit ber travelling ria patung elang bondol dengan salak condet bisa kita temui di perbatasan Jakarta Timur–Bekasi.

Lalu mengapa salak condet dan elang bondol dijadikan sebagai maskot Jakarta? Pastinya, ada harapan Pemerintah DKI hendak menyelamatkan dua harta berharga itu. Tetapi, sejauh ini, upaya kongkret pelestariannya, kelihatannya hanya sekedar lips service belaka!! Aset-aset ekologi hanyalah sekedar ironisme ketidakbecusan kesadaran lingkungan hidup atau malahan hanya sekedar “paradox” atas claim kita yang katanya sangat peduli terhadap lingkungan hidup. Betulkah??

Elang bondol sejatinya bukanlah satwa endemik Jakarta. Burung buas bernama latin Haliastur indus ini tubuhnya berbulu kecoklatan dan leher sampai kepala berbulu putih. Panjang badannya mencapai 52 sentimeter. Burung raksasa yang gagah ini mampu terbang sampai ketinggian 3.000 meter . Ia kadang juga dijumpai di Australia, India, Cina, dan Filipina. Di Jakarta populasi burung yang hampir punah itu tinggal beberapa ekor saja!!. Kini, mereka hidup di Cagar Alam Laut Pulau Rambut atau Ragunan. Nasib salak condet dan elang bondol, lagi-lagi menjadi sekedar nama saja ketika kita tidak “aware” terhadap lingkungan sekitar kita. Sekarang, tidakkah anda ingin menyempatkan menatap gambar elang bondol dan salak Condet, berfikir kritis, dan berbuat sesuatu yang positif atasnya?? The choice is yours….

AKU INGIN PULANG CEPAT….


AKU INGIN PULANG CEPAT

“Waktunya lima belas menit.” Itulah pemberitahuan Mas Sigit, pembicara kesekian dalam upaya “pemerkosaan” kepada kami dalam latihan menulis di Rumah Perubahan 24-25 Mei ini. Kubiarkan jariku mulai mengguratkan kata per kata yang kuyakin nanti pasti aku bingung memberi judulnya. Kutengok kanan kiriku yang sudah mulai “siap tempur” dengan senjata dan amunisi, pena dan kertas tentunya.

Kuloloskan secarik kertas dari bundel map sisa kertas pelatihan hari pertama. Siang mulai menjelang. Kulirik iringan panitia dengan kardus lunchbox putih jatah makan siang. Aku bergumam dengan benak nakalku. “Ah tunggulah kau cacing cacing nakal dalam ususku! Waktumu tak kan lama lagi kok menggangguku dengan irama dangdut diperut ini” kataku dalam hati. Kupegang bagian abdomenku yang mulai berlemak sambil mengucap mantra pelan untuk menentramkannya. “Sttt, sabar ya…..” bisikku perlahan. Aku tak begitu peduli tatapan aneh peserta lain di sebelahku.

Kutepis jauh jauh pikiran tentang ukuran lingkar pinggangku yang mulai melebar seolah melar rata melingkar membentuk tas pinggang. Aku mengambil sikap santai.  Senyaman mungkin aku  bergaya bak penulis professional. Namun, nampaknya sang ilham dan inspirasi agak enggan datang menghampiri.

“Dreeet dreeet. Dreet dreettt.” Getaran di saku kantong celana menghalangi fokus khusyuk tingkat tinggiku. Kuambil handphone semi “jadul” oleh oleh waktu kerja pertamaku dulu. Sebait untaian aksara rindu menyapaku. “Papah, nanti jadi pulang cepet kan? Katanya mau ngajakin dinner di KFC.”

Aku sedikit tersentak, berfikir sejenak. Sekian menit ada jeda tanganku terambang di udara. Kupikir keningku berkerut, mencari alasan apa yang pas untuk kuberikan kepada panitia. Aku ingin pulang cepat! Gelora rindu kepada Eric anakku dan istriku tak berhasil kuredamkan cepat. Aku ingin pulang cepat!

Dan kubiarkan saja tulisan ini bergulir tak berakhir. Aku mulai tak konsentrasi apa yang akan kutuliskan. Ah aku jadi teringat akan kisah fiksi perjalanan waktu  dalam buku “Time Travel” dari H.G Wells. Dan benakku pun tergoda. Jika aku boleh berharap sesuatu yang tidak mungkin, aku ingin meminta satu hal.  Mudah mudahan waktu cepat berlalu. Aku ingin pulang cepat…..

RUMAH PERUBAHAN, 25 MEI 2010

Previous Older Entries