OUR MOTHER EARTH IS DYING: PENCARIAN SOLUSI YANG INTEGRATIF UNTUK GERAKAN NASIONAL SADAR LINGKUNGAN


OUR MOTHER EARTH IS DYING: PENCARIAN SOLUSI YANG INTEGRATIF UNTUK GERAKAN NASIONAL SADAR LINGKUNGAN

FERRY ISMAWAN

 

“….May there be only peaceful and cheerful Earth Days to come for our beautiful spaceship Earth as it continues to spin in frigid space with its warm and fragile cargo of animate life…”  (U Thant, UN Secretary General, February, 26 1971)

Kutipan sekian puluh tahun yang lalu dari U Thant, Sekretaris Jenderal PBB saat itu  nampaknya pas menggambarkan bagaimana harapan kita terhadap Bumi yang makin merana. Kita tahu bahwa belakangan ini, bencana yang terjadi di tanah air, baik karena yang disebabkan oleh alam atau karena ulah manusia semakin meningkat frekwensi dan intensitasnya dari hari ke hari. Jelas jelas, bencana berimplikasi pada kerugian dan kehilangan, baik secara materi atau non materi.[1] Tak sanggup kita menghafal berapa banyak jumlah nyawa sia sia manusia yang melayang, juga kerusakan harta benda dan tempat tinggal. Semua tadi belum termasuk hilangnya ternak dan sumber mata pencaharian. Lebih tragis, hal ini berdampak psikologis-traumatis terhadap anak-anak, manula dan pihak pihak yang rentan krisis.[2] Satu bencana yang muncul nanti pastinya akan semakin menambah kompleks dan carut marutnya penyelesaian permasalahan di Republik ini yang kita tahu makin “sarat beban”  dan entah berakhir kapan.

Dan “Mother Earth” kita sedang dying alias sekarat! Butuh berapa lama bagi kita, manusia, yang katanya mahluk yang paling sempurna untuk mencerna semua fenemena alam ini? Pembabatan hutan[3] dan penyempitan “sabuk hijau” untuk tujuan komersil adalah beberapa contoh kasus yang tak bisa dipandang sebelah mata. Mari berhitung dengan pemahaman kita yang masih bebal terhadap satu kata ini saja: “sampah”!! Memori kita bahkan tak kuasa mengingat dimana lokasi sampah atau puntung rokok dan styrofoam yang beberapa waktu lalu kita buang. Belum lagi kalau kita ditanyai apa bedanya “organic waste” dan “non-organic waste.[4] Berapa besar persentase dari kita yang sanggup benar benar membedakan definisinya. Berapa besar persentase dari kita yang melakukan pemisahan dalam pembuangannya?

Apakah benar wawasan informasi dan pemahaman kita sudah go-international? Atau bisa jadi koneksi kita dengan globalisasinya internet, facebook atau twitter masih berbanding terbalik dengan rendahnya mentalitas dan awareness kita terhadap penanganan sampah dan lingkungan. Coba tanyakan kepada diri sendiri berapa banyak dari kita yang aware bahwa bumi pun punya selebrasi hari yang perlu diingat-rayakan?[5] Banyak dari kita hanya menghafal sekian tanggal merah di kalender dengan alasan klasik, kapan bisa cuti bersama dibandingkan berperan serta aktif dalam mematikan aliran listrik walau hanya untuk satu jam untuk Earth Hour atau mengetahui siapa nama pioneer Earth Day misalnya.[6]

Mungkin pemerintah perlu lebih giat mewartakan keselarasan teori dan praktek berwawasan lingkungan yang baik dan benar dengan cara turun langsung dalam program “one man one tree” atau dengan sistem agroforestri misalnya.[7] Ini akan lebih mengena dibanding sekedar memasang iklan separuh halaman di media massa atau program tebar pesona yang kita tahu hanyalah sekedar jargon dan politik pencitraan belaka. Akan lebih baik jika disertai upaya positif yang bersifat terintegrasi ke semua aspek dan elemen masyarakat. Semisal, perlu dipikirkan terobosan revolusi pembelajaran mengenai aplikasi cinta lingkungan di level sekolah formal, non formal dan mensinergiskannya ke dalam kurikulum pembelajaran. Beberapa sekolah di lingkungan Bintaro tempatku mengajar sudah meneriakkan anti penggunaan styrofoam di kantin sekolah untuk “wadah” makan siang, terutama makanan berkuah semisal bakso serta dalam penggunaan alat peraga. Beberapa poster dan deklarasi lingkungan juga disuarakan. Nah, sinyal positif ini apakah sudah menjalar di gedung gedung megah di lingkungan sekitar? Apakah anda berani meminta ganti wadah untuk makan siang anda dari wadah styrofoam dengan mangkok, piring atau daun untuk melestarikan alam dan peduli kepada kesehatan pribadi? [8]

Beberapa alternatif solusi bersifat integratif harus tetap dicari. Pemerintah via DPR sebagai pembuat Undang Undang juga mungkin perlu belajar dan melongok negeri tetangga kita Singapura untuk salah satu alternatif solusi. Namun, tentunya bukan solusi ngelencer jalan jalan ke Genting atau shopping ke Orchard yang menghabiskan uang rakyat dengan tujuan tak jelas. Kita bisa belajar dari negeri yang berukuran hanya sepersekiannya saja dari Jakarta namun mampu mengolah limbah menjadi air bersih aman dikonsumsi bahkan dari air seni kita sendiri!! Dan dunia seolah maklum bahwa dalam konteks tingkat kebersihan, pepatah yang pas menggambarkan kondisi negeri kita dan Singapura adalah “bagaikan langit dan bumi.” Kita mungkin akrab dengan istilah “Singapore is a Fine City”[9] yang bisa bermakna ganda, kota yang indah sekaligus kota denda. Dan hukum disana benar benar dijunjung tinggi untuk efektifitas pelaksanaan. Malukah kita belajar dari mereka?

Dan istilah Fiat Justitia Ruat Caelum[10] perlu kita terapkan. Etos sadar lingkungan mulai sejak dini perlu kita tumbuh kembangkan. Pertama mungkin agak terkesan agak aneh, tidak popular, tapi muaranya berujung jelas. Hukum membuat kesadaran mentalitas meningkat deras jika betul betul dilaksanakan dengan tegas. Tentunya hal hal yang sangat jamak kita temui di Jakarta tak muncul di Singapura. Mentalitas dan logika kita kembali diuji dan dipertanyakan.  Apa yang membuat kita beda dengan mereka? Banyak yang makan nasi disana, banyak juga yang makan roti dan mie disini. Aparat dan kaum konglomerat harus duduk semeja. Tindaklah tegas para perambah hutan dan mereka yang berdiri dibelakangnya. Mahasiswa dan tehnokrat sebaiknya berjalan seiring sejalan. Mengatasi berbagai masalah lingkungan tak bisa dari satu sisi saja. Penanganan polusi dan transportasi misalnya. Pembatasan jam beroperasinya truk truk besar di tengah kota merupakan upaya yang konstruktif.

Hasil riset menunjukkan bahwa transportasi di Jakarta telah menyumbang sekitar 19 juta ton effek rumah kaca,[11] dan menjadikan suhu dan temperatur menjadi naik lebih hangat atau panas.[12]  Namun, pada pandangan para pebisnis dan kaum supir misalnya, hal ini dipersepsikan sebagai alternatif untuk menambah penghasilan sampingan para aparat yang memang sudah buruk pencitraannya di mata masyarakat. Disini kita perlu keselarasan berfikir tentunya. Dan sekali lagi, Fiat Justitia Ruat Caelum benar-benar ditantang untuk pembuktiannya, dalam konteks kesadaran  lingkungan dan mentalitas sadar hukum maksudnya.

Mari kita membicarakan solusi daripada saling caci maki dan lempar tuduhan. Paling tidak mulai detik ini kita sadarkan diri kita untuk melakukan pemisahan sampah pribadi, dari lingkungan terdekat kita, rumah dan tempat kerja. Kita juga bisa duduk semeja untuk penyelesaian masalah. Anak SD bisa membuat prakarya tentang lingkungan sementara para petani bisa mengolah sawah, tanpa takut tanahnya bakal tergusur jadi areal mal, jalan tol, perumahan elit atau gedung perkantoran. Guru bisa lebih banyak mengajarkan dalam kurikulum mutakhir tentang perubahan lingkungan sementara anak SMA bisa membuat eksperimen dan terobosan. Mahasiswa tentulah jadi agen perubahan. Orang orang yang di pusat sana jangan anti perubahan, terutama perubahan untuk pembaharuan dan kemajuan. Perlu usaha kolektif untuk bisa bersinergi, mencari alternatif solusi agar berperan dalam membantu  mengobati krisis bumi yang sedang sekarat ini. Menjadikan program sadar lingkungan secara komprehensif dan mempraktekkan konsep “go green” secara integratif sebagai sebuah gerakan nasional adalah salah satu solusinya. (Ferry Ismawan, June 10, 2011)

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Armanto, Dhani, Sudarja, Dadang dan Royan, Ahmad (et.al). 2007. Bersahabat dengan Ancaman: Buku Bacaan Murid Pendidikan Pengelolaan Bencana Untuk Anak Sekolah Dasar. Jakarta, Grasindo

Proyek Sphere, 2004. Piagam Kemanusiaan dan Standar Standar Minimum dalam Respons Bencana. Grasindo

Rianse, Usman dan Abdi. 2010. Agroforestri: Solusi Sosial dan Ekonomi Pengelolaan Sumber Daya Hutan.Bandung, Penerbit Alfabeta.

Wardhana, Wisnu Arya. 2010. Dampak Pemanasan Global: Bencana Mengancam Umat Manusia, Sebab Akibat dan Penanggulangannya. Yogyakarta: Penerbit Andi


[1] Lihat Dhani Armanto, Dadang Sudarja , Ahmad Royan (et.al). Bersahabat dengan Ancaman: Buku Bacaan Murid Pendidikan Pengelolaan Bencana Untuk Anak Sekolah Dasar. Jakarta, Grasindo, 2007.halaman 6-7

[2] Proyek Sphere, Piagam Kemanusiaan dan Standar Standar Minimum dalam Respons Bencana. Grasindo, 2004

[3] Illegal Logging atau pembabatan hutang serta pengalihgunaan lahan hutan menjadi lahan pertanian atau yang lain menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora adan fauna, juga masalah kekeringan dan perubahan lingkungan global. Lihat Usman Rianse dan Abdi. Agroforestri: Solusi Sosial dan Ekonomi Pengelolaan Sumber Daya Hutan.Bandung, Penerbit Alfabeta. 2010, halaman 3

[4] Tempat sampah bertuliskan Organic Waste dan Non Organic Waste biasanya membedakan sampah sebagai yang dapat didaur ulang dan yang tidak bisa diuraikan. Beberapa institusi sudah menyadari pentingnya membagi tempat sampah menjadi 2 bahkan 3 bak sampah walaupun pada prakteknya, penggunaanya masih belum maksimal karena masih tercampurnya jenis sampah tersebut.

[5] Earth Day atau hari Bumi biasanya diperingati pada tanggal 22 April, atau sehari setelah perayaan hari Kartini d Indonesia.  Hari Bumi diperingati sebagai hari untuk memberikan kesadaran dan penghargaan atas lingkungan alam di Bumi.

[6] Earth Hour disini mengacu pada istilah anjuran organisasi pemerhati lingkungan untuk lebih menghemat energy dengan mematikan beberapa sumber energy secara periodik.Sementara nama dan konsep Earth Day diperkenalkan oleh John Mc. Connell di tahun 1969 pada Konferensi Lingkungan Hidup UNESCO di San Francisco. Earth Day atau International Mother Earth Day saat ini sudah diperingati di lebih 175 negara setiap tahunnya.

[7] Agroforestri, adalah sebuah cabang ilmu pengetahuan baru dibidang pertanian dan kehutanan. Istilah ini mengacu pada penanaman pepohonan di lahan pertanian dan petani atau masyarakat sebagai elemen pokoknya. Kajian agroforestri tidak hanya terfokus pada masalah teknik dan biofisik saja, tetapi juga masalah sosial, ekonomi dan budaya yang selalu berubah seiring bperkembangan jaman. Agroforestri menjadi salah satu sistem pengelolaan lahan yang mungkin dapat mengatasi masalah yang timbul karena pengalihgunaaan lahan dan sekaligus untuk mengatasi masalah pangan. Lihat Usman Rianse dan Abdi. loc.cit

[8] Styrofoam, bahan yang tak bias diuraikan dan sangat berbahaya bagi kesehatan, ironisnya seringkali masih sering terlihat digunakan untuk mewadahi makanan berkuah panas di beberapa mal dan restoran cepat saji di lingkungan Bintaro.

[9] Istilah “Singapore is a Fine City” bisa bermakna ganda. Pertama, term “Fine City” betul betul selaras dengan kota yang didesain sebagai kota yang bervisi dan berwawasan lingkungan. Masyarakatnya pun sadar diri. Sampah amat jarang ditemukan. Asap rokok pun tak sembarangan bisa dikepulkan. Term kedua, Fine City bisa berarti kota denda. Kamera CCTV bisa jadi alat penyaksi jika kita tidak ingin didenda sekian ratus dolar hanya karena membuang sampah, mengepulkan asap di tempat umum atau makan permen karet!!

[10] Istilah Fiat Justitia Ruat Caelum atau “hukum harus ditegakkan walau langit runtuh sekalipun” adalah konsep yang lebih akrab di perspektif hukum namun dalam konteks penegakan kesadaran akan perubahan lingkungan dan dampaknya ini diharapkan bisa saling mengisi.

[11] Efek rumah adalah peristiwa alamiah yang kejadiannya mirip dengan pantulan panas di dalam rumah kaca yang digunakan petani saat menanam sayuran pada musim dingin di Negara yang mengenal 4 musim. Sinar matahari masuk kedalam rumah kaca untuk membantu proses asimilasi. Sisa panas dari matahari seharusnya dikeluarkan ke atmosfer, namun karena adanya bilik kaca dan atap kaca menjadikan panas tersebut terpantul kembali. Suhu udara didalam bilik kaca menjadi hangat. Pantulan panas kembalo ke ruangan dan menjadikan suhu naik hangat tersebut disebut efek rumah kaca.

[12] Lihat beberapa artikel di beberapa harian ibukota seperti Republika yang mengupas masalah ini seperti edisi Senin, 14 September 2009 yang berjudul “Kurangi Emisi Gas Kaca” serta edisi kamis 1 Oktober 2009 dengan judul “Suhu Bumi Akan Naik 4 Derajat

4 Komentar (+add yours?)

  1. soto
    Jun 10, 2011 @ 16:10:13

    However, recent scientific research has shown that the sun has been
    driving temperature changes, as we have the highest solar activity we
    have had in 1,000 years.

    http://newsgroups.derkeiler.com/Archive/Alt/alt.politics.bush/2008-07/msg01554.html

    Balas

  2. Riennakki
    Jun 11, 2011 @ 04:39:35

    Mulailah dari hal kecil…membawa plastik sendiri saat belanja dimana saja…bisakah?🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: