RUMAH PERUBAHAN IS A FINE HOUSE


RUMAH PERUBAHAN IS A FINE HOUSE

FERRY ISMAWAN

 

Pernah mendengar frase “boleh merokok tapi asapnya ditelan sendiri? Pelanggaran terhadap aturan ini akan dikenakan denda sebesar lima ribu rupiah.” Begitulah salah satu dari sekian aturan yang dibacakan Ria, pemandu acara Pelatihan Menulis untuk Guru, 23-24 Mei lalu. Aku mencoba fokus diantara sekitar 80an lebih peserta pelatihan yang diselenggarakan oleh Rumah Perubahan, Jati Warna, Pondok Gede, Bekasi.

Logika berfikirku serasa ditantang untuk menafsirkan bahwa asap rokok yang dikepulkan akan membawa perasaan tidak nyaman. Terlebih bagi mereka yang berada tak jauh dari si “penghasil asap” ini. Aku butuh jeda beberapa saat untuk menerjemahkan diksi, pilihan kata tersebut untuk sekedar menghibur diri. Ternyata betul pepatah banyak cara menuju Roma, banyak cara membuat perubahan, banyak cara mengguratkan pena, dan banyak cara menyiasati keadaan.

Dari sudut pojok ruangan nan sejuk ber-airconditioned dan berukuran sekitar 10×20 meter aku mulai mencoret coret sesuatu di notesku. Aku mulai bermain-main dengan imajinasiku. Kulihat tulisan “rumah perubahan” di banyak titik ruangan, bahkan di bagian depan map yang diberikan panitia ada tulisan yang sama dalam bentuk stiker. Anganku mulai mengembara.

Aku jadi teringat akan sebuah status di facebook yang pernah asal saja kutulis. “Jika setiap mili mikron dalam hidup kita adalah sebuah perubahan, aku ingin larut dalam fase itu…” begitu yang kuingat. Sejenak kamus definisi di kepalaku membisikkan sesuatu bahwa perubahan adalah pencerahan. Benakku mulai berkelana, mengingat memori apa saja yang bisa mencerahkan dirku kali ini, atau kalau mungkin bisa mencerahkan yang lain. Tapi, tunggu dulu! Masih banyak sesi yang harus kulalui hari pertama ini.

Dan kuambil pena dari saku bajuku. Kuikuti saran Mas Yudhistira siang tadi. Kumulai dari satu huruf, kata, kalimat dan satu paragraf. Entah apakah nanti akan menjadi sebuah sekedar catatan pribadi atau yang lain. Paling tidak aku sudah berfikir tentang perubahan. Paling tidak aku sudah mematahkan anggapan atau mitos pribadi bahwa aku takkan pernah bisa mengekspresikan angan dalam bentuk tulisan kecuali kutipan-kutipan curian dari para penyair yang namanyapun sering tak benar saat kuejakan.

Dan Rumah Perubahan adalah rumah penuh asa dan harapan. Memoriku jadi tergelitik mengingat bagaimana kami tersenyum simpul mendengar frase yang disampaikan Ria tadi. Asosiasi pikiranku awalnya tergiring memaknainya sebagai aturan yang sedikit menggelikan. Bisa jadi ia diadopsi dari aturan kota Singa. Term atau istilah “fine” dalam kalimat “Singapore is a Fine City” yang bisa bermakna “cantik atau indah” bisa pula berarti “denda”. Dan nampaknya aku harus segera bergegas menuju ruangan pelatihan jika tidak ingin didenda lima ribu perak karena terlambat datang. Pastinya aku ingin tergerak memaknai secara positif akan arti perubahan. Dan Rumah Perubahan is a Fine House….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: