KENALI DAN ATASI ADIKSI PONOGRAFI PADA ANAK DAN REMAJA!!


KENALI DAN ATASI ADIKSI PONOGRAFI PADA ANAK DAN REMAJA!!
FERRY ISMAWAN

Tulisan ini adalah sepenggal oleh oleh dari Seminar Nasional “Mengenali dan Mengatasi Adiksi Ponografi Pada Anak dan Remaja” yang dihadiri penulis pada tanggal 30 September 2010 bertempat di Universitas Paramadina. Dalam seminar ini terdapat dua pembicara, yakni Elly Risman, psikolog anak yang juga Ketua Yayasan Kita & Buah Hati serta Randall F. Hyde, Psikolog Anak dan Keluarga dari Amerika Serikat.
Pada dasarnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era globalisasi sudah masuk kedalam ranah dan kamar yang paling pribadi dalam kehidupan kita. Pada satu sisi harus diakui bahwa hal ini pastilah berdampak positif bagi kehidupan masyarakat, namun di sisi lain telah membawa dampak yang juga negatif pada tumbuh kembang otak anak. Salah satu contoh teknologi informasi yang berdampak negatif adalah mudahnya mengakses pornografi melalui jaringan internet oleh anak-anak usia sekolah, usia yang paling rawan dalam sejarah perkembangan kematangan berfikir dan bertindak mereka. Jika pada masa kita dulu untuk mengakses internet kita harus menyisihkan rupiah yang tak murah dan pergi ke tempat yang masih agak jarang jarang, saat ini hal itu sudah tak berlaku seutuhnya. Bahkan, hanya dengan seribu rupiah saja anak kita bisa berselancar di dunia maya untuk menemukan nama Luna Maya, sebuah nama yang sempat booming bukan hanya di negeri ini tapi juga di seantero dunia, tentunya dengan sedikit kutak kutik pada papan keyboard pc atau mungkin dari media lain.

Elly Risman sebagai pembicara pertama menunjukkan fakta statistik yang mengejutkan tentang akses pornografi anak anak usia sekolah. Dari ribuan responden yang sudah diteliti, usia anak anak yang mengakses situs porno dan hal yang berkaitan dengan hal ini adalah anak anak pada rentang usia 7 hingga 10 tahun!! Fakta statistik menunjukkan usia ini menyumbang 37% dari total keseluruhan responden. Pada usia antara 10-15 tahun, tingkat persentasenya naik sekitar sembilan persen menjadi 46%!! Jika dua angka ini saja digabung, maka total keduanya sudah sekitar 83%!! Dari kesemua responden didapati bahwa media mereka mendapatkan akses cepat tanpa batas itu dengan melalui internet entah itu di warnet atau bahkan dikamar pribadi mereka. Jumlahnya sangat besar, 41%. Berikutnya, disusul 20% lewat HP dan 16% lewat games semisal Point Blank, games popular anak remaja serta beberapa nama lainnya. Menurut Elly Risman, “banyak orang tua yang “membayar kekurangan waktu bersama” dengan anaknya dengan memberi berbagai permainan elektronik seperti play station (PS), video game, handphone dan lainnya. Statistik menunjukkan dari sekitar 4500 responden yang diteliti, 97% menyatakan mereka pernah menontot film biru, 53% pernah melakukan kissing, necking, petting dan heavy petting. Yang membuat miris adalah 62,7% mereka telah kehilangan virginitasnya dan 21,2% bahkan pernah melakukan aborsi!!

Keadaan ini tentunya mempunyai efek berantai. Anak dan remaja akan mempunyai masalah akademis yang rendah, kurangnya kepercayaan diri, kematangan sosio-emosional yang dibawah rata rata, tidak mampu mandiri dan perilaku mental yang menyimpang. Pada saat ini Indonesia belum memiliki tenaga-enaga ahli terapi untuk menangani adiksi pornografi. ”Belum ada satupun terapis untuk menangani adiksi pornografi,” tegas psikolog yang juga Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati,Elly Risman di Jakarta. Bahkan di kalangan akademisi pun jenis adiksi atau kecanduan pornografi belum dikenal. Jadi tepatlah Randall F. Hyde sekaligus Psikolog Anak dan Keluarga dari Amerika Serikat sengaja didatangkan.

Pada dasarnya, penyelenggaraan seminar dan pelatihan penanggulangan adiksi pornografi diharapkan dapat menghasilkan para terapis yang mampu mengatasi adiksi pornografi di Indonesia. Sosok yang lebih suka dipanggil dengan nama Randy, dan bule yang suka minum cendol Jakarta dan juga buah pisang itu memang mengakui bahwa adiksi pornografi dinilai sudah menyerang anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar (SD). Namun tidak seperti adiksi narkoba yang memiliki rujukan untuk direhabilitasi, adiksi pornografi tidak memiliki rujukan. Ia menyebut istilah baru bagi saya, yakni “Dopamine” sebagai salah satu sel kimia dalam otak berbagai jenis hewan vertebrata dan invertebrata, yang bersifat seperti neurotransmiter (zat yang menyampaikan pesan dari satu syaraf ke syaraf yang lain) dan merupakan perantara bagi biosintesis hormon adrenalin dan noradrenalin. Fungsi utamanya sebagai hormon ialah menghambat pelepasan prolaktin dari kelenjar bernama hipofisis. Dopamin yang berlebihan dapat menyebabkan skizofrenia dan bila kekurangan dapat menyebabkan penyakit parkinson.

Fakta menunjukkan adiksi pornografi merupakan adiksi jenis baru dan merusak lebih banyak bagian otak dibanding adiksi narkoba. Statistik empiris menjelaskan bahwa adiksi pornografi mengakibatkan berkurangnya jumlah ujung saraf antar sel, karena gagal melakukan modifikasi ujung saraf [synaps] yang berakibat terhentinya tumbuh dan berkembangnya otak anak,” Yang ditakutkan, dalam jangka panjang mengakibatkan penyusutan sel otak sampai kerusakan otak permanen, dan pada akhirnya anak tidak siap dididik karena rendahnya kualitas otak untuk menerima informasi pembelajaran berbasis pemecahan masalah. Kualitas otak yang rendah itu, tambahnya, akan menyebabkan gangguan kognitif, seperti daya ingat rendah, kurang berani berbuat keputusan, kemampuan berbahasa yang rendah, dan kurangnya kemampuan berorientasi pada ruang, tempat, dan waktu. “Keadaan ini akan berlanjut dan berdampak pada prestasi akademis yang rendah, rendah diri, kematangan sosio-emosional yang rendah, tidak mampu mandiri, dan perilaku mental yang menyimpang,” Bila hal itu dibiarkan terus-menerus, tanpa upaya yang signifikan baik dari pemerintah dan masyakarat, serta keluarga, maka anak-anak tidak akan bisa bersaing di era global, dan hanya menjadi penonton serta jadi pekerja kasar nantinya.

Disisi lain, yang juga mengkhawatirkan adalah belum adanya sosialisasi UU Pornografi No 44 tahun 2008 yang sebelumnya sempat ditolak judicial review nya oleh Mahkamah Konstitusi. Kita belum banyak mendengar sosialisasi UU Pornografi sehingga saat ini orang masih dengan mudahnya menyebar gambar-gambar porno yang juga dilakukan oleh anak-anak. Kasus video Ariel-Luna Maya-Cut Tari yang sangat mudah dibagi oleh siapa saja. ”Seandainya mereka tahu UU Pornografi mereka bisa terancam denda hingga Rp 500 juta!!! Bisa miskin mendadak kita jika tertangkap tangan sedang melakukan tindakan pelanggaran hukum ini.

Pada bagian lain, Randy menyarankan sosok pendampingan dalam mengatasi masalah ini. Ia menyebut bahwa Orang tua adalah Terapis Terbaik!! Orang tua merupakan terapis terbaik dengan prinsip dan keterampilan terbaik. Menurut Randall F. Hyde bahwa “Tidak ada orang yang mencintai anak Anda lebih dari Anda. Tidak ada orang yang akan peduli pada anak Anda lebih dari Anda. Tidak ada orang yang mengetahui atau memahami anak Anda lebih dari Anda.” “Kalau anak Anda akan dibantu, Anda yang akan harus melakukannya” tegas Randall.

Selain itu, menurut Randall bahwa “kalau orang tua adalah terapis terbaik, maka keluarga adalah lingkungan terbaik untuk belajar, tumbuh dan meraih potensi tertinggi seseorang. ”Karakteristik yang baik menghasilkan perilaku yang baik dan karakter yang buruk menghasilkan perilaku yang buruk. Menurut Randall, bahwa “Setiap orang bertanggung jawab atas perilakunya. Perilaku seseorang mengungkapkan karakter atau kekurangan daripada seseorang. Untuk itu kemampuan dan tanggung jawab pribadi adalah konsep sentral dari karakteristik yang baik. Melalui karakteristik yang baik ini seorang anak harapannya terhindar dari pengaruh buruk pornografi.

Dari referensi lain, untuk menghindari dan mencegah pengaruh adiksi pornografi menurut Prof. Malik B. Badri, dijelaskan bahwa “Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah bagaimana orang tua dan orang dewasa lainnya untuk ‘menghilangkan rasa bersalah’. Jika orang sudah merasa bersalah, maka ia akan menghindari untuk berbuat hal serupa.” Langkah kedua adalah ‘larangan anak mendekati pornografi dilakukan secara bertahap, sebagaimana dicontohkan dalam Al-Quran – pelarangan Alkohol. Larangan tersebut dilakukan secara secara bertahap dari larang melakukan salat sampai akhirnya pengharaman terhadap Alkohol. Hal serupa dapat diterapkan dalam larangan pornografi. Meskipun demikian, menurut Randall kunci utama adalah “Komunikasi dan saling percaya antara anak dan orang tua merupakan unsur penting”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: