LIBERAL ART: SEJARAH DAN APLIKASINYA


LIBERAL ART: SEJARAH DAN APLIKASINYA

FERRY ISMAWAN

 

 

 

PROLOGUE

Istilah “Liberal Art” yang menjadi satu dari tiga kurikulum unggulan[1] di sekolah Pendidikan Jaya ini sebenarnya bukan hal baru.  Duet kata diatas tersebut berawal dari istilah artes liberales, dan mulai marak di Eropa sejak abad pertengahan atau Medieval.[2] Term “art” atau artes dalam bahasa latin tidaklah berarti sama dengan ‘”seni” yang dipahami jaman sekarang. Art pada kata Liberal Art lebih mengacu pada cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan disekolah pada masa masa pencerahan. Istilah liberal sendiri berasal dari bahasa latin liber, yang berarti bebas. Di Perancis, puncak dari ‘liberal arts’ adalah adanya pembelajaran filsafat di tingkat ‘lycee’ atau high school.[3] Konsekuensinya, seorang siswa harus mampu menulis artikel mengenai tokoh filsuf ternama, seperti Friedrich Nietzche,[4] sementara pada tataran yang berbeda di level high school di Sekolah Pembangunan Jaya siswa dilatih-ajarkan tiga kurikulum unggulan ditambah mata pelajaran unggulan seperti Metodologi Penelitian dan English Plus yang berorientasi kepada kombinasi penguasaan hard skill dan soft skill siswa. Encyclopedia Britannica memberikan definisi bahwa konsep liberal art merupakan suatu kurikulum yang dipraktikkan oleh institusi pendidikan seperti college dan universitas untuk menanamkan dan mengembangkan kapasitas para peserta didik atau mahasiswa. Liberal art harus dibedakan dengan kurikulum yang bertujuan menghasilkan lulusan yang berkemampuan profesional, vokasional, atau teknik.[5] Pembelajaran Liberal Art kontemporer biasanya meliputi aspek literature, bahasa, filsafat, sejarah, matematika dan science [6]

 

EDUCATION AND RESEARCH WITHOUT WALLS

Diskusi panjang penerapan konsep liberal arts di Indonesia sudah terdengar di beberapa universitas lokal ternama. Bahkan UI melalui petinggi akademiknya ingin segera mempraktikkan “education and research without walls” atau kegiatan pendidikan dan riset tanpa dipisah-pisahkan oleh dinding-dinding ilmu dan dinding-dinding fakultas.[7]  Penerapan Liberal Art dalam khazanah pendidikan di tanah air, terutama di lingkungan sekolah Jaya dianggap merupakan salah satu solusi konkret ideal atas carut marutnya kurikulum sekolah yang dianggap sebagian pengamat pendidikan sangat tidak jelas orientasinya. Pertanyaan yang sering terlontar adalah ketidakjelasan arah, mana pelajaran yang untuk kepentingan ekonomi (pasar) dan mana yang untuk sains. Selain itu juga muncul banyak sentilan pertanyaan seperti pelajaran apa saja yang menjadi prioritas, belum adanya kurikulum nasional hingga masalah Ujian Nasional beserta banyak faktor yang melingkupinya.[8]

Sehubungan dengan model dan arah kurikulum Indonesia yang sering terlihat berubah dari waktu ke waktu tanpa kejelasan orientasi, sistem pendidikan Liberal Art dianggap sebagai oase di tengah gurun. Karen Abigail Williams, mendefinisikan pendidikan Liberal Art sebagai:

“A liberal arts education is more important than ever because with the recent economic downturn, we witnessed the decline (and, in some cases, the elimination) of several important industries, leaving highly skilled employees out of work in careers where job growth is not expected,[9]

 

Dalam skala yang lebih luas, Michael Thomas mendeskripsikan tipe pendidikan ini sebagai sebuah pendidikan yang:

“….an education that provides an overview of the arts, humanities (the study of the human condition), social sciences, mathematics and natural sciences.”Artes liberals are rooted in classical antiquity and refer to the general skills  needed to contribute meaningfully to society,” Today, we intend for this to translate into life-long, self-motivated learners who can flourish in——even transform ——the world.” [10]

 

7 CABANG ILMU LIBERAL ART

Cabang ilmu yang dipelajari liberal arts ada tujuh dan dapat diklasifikasi menjadi dua grup terpisah. Tujuh liberal arts adalah anggota dari sistem pembelajaran yang dimulai dari cabang bahasa sebagai tahap pertama, cabang matematika sebagai tahap kedua, dan sains sebagai tahap akhir. Grup pertama mempelajari tata bahasa, retorika, dan logika atau dialektika. Grup pertama sering dianggap sebagai grup dasar, atau disebut trivium karena terdiri atas 3 cabang dasar, dan lebih dikenal sebagai  kajian bahasa atau artes sermocinales. Grup kedua terdiri atas aritmatika, geometri, astronomi, dan musik dan lebih dikenal sebagai disiplin matematika-fisika atau artes reales/physicae. Istilah lain untuk pengelompokan ini adalah quadrivium karena mempelajari 4 cabang.

 

PERMASALAHAN DALAM LIBERAL ART

Pendidikan liberal art menekankan pada pengembangan kemampuan berfikir dan menalar, yakni pengolahan kompetensi untuk menemukan dasar rasional bagi suatu gagasan dan sikap, disamping juga mengolah kompetensi-kempetensi yang umum dan mendasar. Umum artinya tidak spesifik atau khusus; mendasar artinya esensial dan tidak pragmatis. Pendidikan liberal art juga mencakup keseluruhan dimensi kemanusiaan secara utuh, yakni manusia sebagai mahluk yang menalar, berinteraksi dan berkembang, dan menciptakan individu yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab.[11] Liberal arts merupakan konsep paradigma keilmuan yang bersifat universal. Penerapannya murni pada pengembangan disiplin keilmuan yang tidak terkait dengan “kepentingan” dan sistem tertentu. Pada paradigma liberal arts, kampus/sekolah menjadi pusat riset (maha)siswa yang diharapkan melahirkan temuan-temuan baru untuk memajukan keilmuan yang digeluti oleh masing-masing individu. Kecenderungan tersebut, menurut survei, berdasarkan atas pertimbangan bahwa para lulusan Liberal Arts –karena dasar pengetahuan mereka yang lebih umum dan luas– lebih mampu dan dapat cepat menyesuaikan diri pada posisi mereka ketika mulai bekerja. Majalah berita mingguan Newsweek pernah mengupas tentang kecenderungan di sekolah kedokteran terkemuka di USA yang lebih memilih menerima mahasiswa yang punya dasar ilmu sosial dan humaniora. Dengan demikian, idealnya seorang mahasiswa di suatu universitas boleh mengambil mata kuliah apa saja yang disediakan di segala fakultas, departemen, program studi, dan unit pendidikan lain sehingga tidak terbatas pada hanya satu fakultas atau program studi. [12]

Jadi ringkasnya, istilah Liberal Art lebih ditujukan kepada kurikulum pendidikan yang ditujukan untuk melatih kecerdasan para orang bebas. Kurikulum pembelajaran tersebut lebih berorientasi kepada kecerdasan dan kemampuan multi-dimensi, bukan sekedar untuk kepentingan ekonomi.[13] Liberal Arts bukan digunakan untuk mencari nafkah, namun lebih untuk mempelajari sains. Biasanya kurikulum liberal arts merupakan kombinasi antara beberapa bidang seperti filsafat dan teologi, Hal tersebut untuk menjawab tantangan dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia, yang sering terlihat berorientasi menciptakan spesialis, sehingga lulusan SMA dan lulusan S-1 universitas pada umumnya hanya tahu tentang bidang studinya. Kita sadar bahwa pada saat ini, orientasi dari lulusan perguruan tinggi kebanyakan adalah untuk mendapatkan pekerjaan. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan bagi institusi kependidikan untuk mempersiapkan setiap lulusannya agar dapat diterima di dunia kerja. Untuk itu penentuan kurikulum yang diterapkan pada sebuah institusi pendidikan tentunya ikut andil dalam menciptakan kualitas lulusan, agar dapat bersaing dengan globalisasi dan cepatnya perubahan di luar sana. Jadi diharapkan dengan adanya penerapan kurikulum Liberal Art, tidak ada lagi seorang lulusan pendidikan yang kelabakan ketika ia dihadapkan pada masalah saat ia mencari kerja karena keberagaman skill yang sudah dipelajari sebelumnya di kampus atau tempat ia menimba ilmu sebelumnya.[14]

 

PILAR DAN TULANG PUNGGUNG ABAD 21

Pada dasarnya, fondasi dan pilar Liberal Art menawarkan kita untuk mempunyai kemampuan seperti: (1) To analyze and interpret information (2) to form and express informed opinions (3) to  communicate effectively (4) to  appreciate the richness of a diverse human culture (5) to have better understanding about  human nature and society[15] Bahkan Daniel Pink, business writer dan penulis pidato untuk mantan Vice-President Al Gore, menyebutkan 6 kemampuan kritis yang harus dimiliki lulusan pendidikan di abad 21 ini, yakni: (1)  Design, the ability to conceptualize and think creatively (2) Story, the ability to tell a story, to use metaphor and to write and speak clearly (3) Symphony, the ability to summarize and synthesize information, to bring various ideas and people together to work as a team (4) Empathy (The ability to immerse yourself in someone else culture, and to be tolerant of ideas contrary to one’s own cultural tradition (5) Play, the ability to imagine, to be humorous, and to utilize game strategies in everyday problem solving (6) Meaning, the ability to seek out meaningful, non-material activities, to appreciate symbolic culture, and to develop lasting meaningful career skills

 

FILOSOFI PEMBELAJARAN LIBERAL ART ALA PLATO

Plato pernah memprotes keruntuhan atau dekadensi karena penyaringan informasi secara keliru. yang terjadi pada generasi muda sejak jaman Yunani klasik. Mitologi berbaur dengan rasio. Dalam menjalankan roda pemerintahan dibutuhkan negarawan yang andal. Menurut Plato, seorang negarawan yang baik haruslah mempunyai kualitas kombinasi sekuat seorang raja, namun sebijak seorang filsuf. Persekutuan orang-orang bijak yang memerintah negara, disebut Plato sebagai the guardian. Konsep idealisme Plato ini dioperasionalkan secara kongkrit oleh para founding father Amerika Serikat dalam konsep separation of power atau distribution of power di Indonesia. Pemisahan kekuasaan yang dikenal di Amerika Serikat (Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif) harus dikepalai dan beranggotakan para guardian. Menjadi seorang senator atau anggota kongres, memerlukan persyaratan tertentu yang hanya bisa dipenuhi oleh seorang guardian. Indonesia mencoba mengaplikasikan konsep Plato, namun dengan modifikasi dan penyesuaian dengan kondisi lokal. Para founding father kita (Soekarno-Hatta-Syahrir, dll) sangat familiar dengan pemikiran Plato. Bahkan Bung Hatta pernah mengarang buku tentang Filsafat Yunani Klasik. Konsep ‘guardian’ Plato menjadi salah satu puncak dari falsafat yang medasari liberal arts.

Pada buku ‘Republik’ Plato menjabarkan konsep kependidikannya. Pada langkah awal, ia dimulai dengan kultur musik-gimnastik, yang berarti menggunakan indera sebagai instrumen untuk mengapresiasi yang indah dan baik (nada dan bentuk). Langkah kedua, adalah melalaui cabang matematika, yaitu aritmatika, geometri, astronomi, dan musik, yang beroperasi dengan kekuatan refleksi kita. Kajian matematika memungkinkan siswa untuk beranjak dari pengetahuan indrawi kepada perspektif intelektual. Sehingga siswa dapat secara bertahap menguasai teori angka, bentuk, kinetika, dan bunyi.Tahap ketiga, atau juga tahap terakhir, adalah penguasaan filsafat. Dalam hal ini, Plato mengajukan basis psikologis dari kajian-kajiannya, yang adalah: pengetahuan indrawi, pengetahuan reflektif, dan pengetahuan intelektual. Menurut Plato, pengetahuan tertinggi berada di dunia ide. Dalam dunia ide, terdapat pengetahuan mengenai ‘yang ideal’. Contoh kongkrit dari pengetahuan ideal adalah mengenai pembentukan negara ideal. Plato tidak percaya dengan demokrasi liberal. Menurut dia, jika rakyat dilepas begitu saja tanpa bimbingan dari orang bijak untuk memerintah suatu negara, maka yang terjadi adalah anarki.

 

 

Bagaimana konsep dunia ide Plato mempengaruhi perkembangan sains-tek juga terlihat pada gagantifikasi Hukum Gravitasi. Isaac Newton menemukan hukum yang mengatur pergerakan benda langit, yang dikenal sebagai hukum gravitasi. Newton membangun hukum tersebut berdasarkan asumsi ideal, bahwa ruang adalah absolut dan kecepatan cahaya adalah relatif. Adapun di jaman Newton kecepatan cahaya belum diketahui, sehingga asumsi demikian dibangun. Newton, yang sangat dipengaruhi oleh pandangan dunia mekanistik Kartesian (Alam semesta adalah suatu jam raksasa, dengan dibantu sekrup-sekrup dan baut-baut yang menggerakkannya) berusaha mencari suatu gagantifikasi hukum mekanistik yang mampu menjelaskan alam semesta itu seperti apa. Adapun asumsi Kartesian yang digunakan sangat mempengaruhi perumusan Hukum Gravitasi. Rumus F=ma versi Newton telah menjadi rumus klasik yang sudah kita kenal sejak SMP(F=gaya, m=massa, a=percepatan).


[1] Tiga kurikulum unggulan yang dimaksud disini adalah: Liberal Art, Eco-Development Sustainable dan Entrepreneurship.

[2] Lihat Sinar Harapan, 4 Maret 2008. Arli Aditya Parikesit menyebut konsep dan paradigma liberal arts dalam pendidikan telah lama diterapkan di Eropa dengan tujuan untuk melatih kecerdasan dari orang bebas, sebagai anti tesis dari artes illiberales, yang digunakan untuk kepentingan ekonomi. Dengan demikian, liberal arts bukan digunakan untuk mencari nafkah, namun untuk mempelajari sains.

 

[3] Nama lycee erat kaitannya dengan nama “lyceum” atau institusi kependidikan awal di Yunani yang didirikan oleh Aristoteles, setelah ia sebelumnya belajar dengan Plato di “Academy”.

[4] Friedrich Nietzch adalah seorang filsuf Jerman yang atheis dan seorang ahli ilmu filologi  yang meneliti teks-teks kuno. Ia merupakan salah seorang tokoh pertama dari eksistensialisme modern.

 

[6] Ibid. Lihat juga Ernst Robert Curtius, European Literature and the Latin Middle Ages [1948], trans. Willard R. Trask (Princeto;: Princeton University Press, 1973), p. 37.

[7] Sejak Prof Gumilar Rusliwa Somantri menjabat sebagai rektor di Universitas Indonesia (UI) tahun 2007, gagasan untuk mempraktikkan sistem liberal arts di UI bahkan sudah sampai pada tahap kerjasama perancangan kurikulum pada 6 Februari 2009 dengan Yayasan Pendidikan Jaya yang telah menerapkan konsep liberal arts pada seluruh aspek pendidikan dari tingkat pra-sekolah sampai dengan Perguruan Tinggi secara berkesinambungan.

[8] Carut marut dunia pendidikan di Indonesia beragam selain masalah Ujian Nasional, masih banyak ragamnya semisal anggaran pendidikan yang rendah, masalah profesionalitas guru dan pengajar, ketidakjelasan arah kurikulum, ditambah warisan periodik “ganti menteri ganti kurikulum”.

[9] Karen Abigail Williams, adalah Director of Admission di Eugene Lang College The New School for Liberal Arts di kota  New York.

[10].Lihat artikel dari Julie Bogart pada majalah  MCG edisi 2011 yang berjudul What Are Liberal Arts? http://mycollegeguide.org/articles/8/145/what-are-liberal-arts

 

[11] Lihat Agus Suwignyo. Dasar-dasar Intelektualitas (2007),

[12] Lihat tulisan Ali Usman di Suara Karya, 8 April 2008

[13]Istilah Liberal Art atau artes liberales merupakan anti tesis dari artes illiberales, yang digunakan untuk kepentingan ekonomi.

[14] A Dahana Pendidikan Liberal Arts

Oleh

 

[15] While these skills are valuable by themselves, they form the backbone of what’s been called the “conceptual economy”. points out that today’s college graduates need to master six critical skills to succeed in the conceptual economy of the 21st century:

1 Komentar (+add yours?)

  1. Trackback: Kaum Polimatik dan Sistem Pendidikan di Indonesia Saat Ini | anistyarachmawati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: