THE HISTORY OF SINGAPORE AS A LITTLE RED DOT: REKAM JEJAK DIPLOMASI HUBUNGAN INTERNASIONAL ALA HABIBIE – GOH CHOK TONG


THE HISTORY OF SINGAPORE AS A LITTLE RED DOT:

 REKAM JEJAK DIPLOMASI HUBUNGAN INTERNASIONAL ALA HABIBIE – GOH CHOK TONG

FERRY ISMAWAN

 

A.      Dari Pulau Ujung hingga Shōnantō

Kita sering menyebut Singapura sebagai a Fine City yang bermakna kembar sebagai kota yang indah atau bahkan kota denda.  Ada juga beberapa versi sejarah mengenai asal usul nama negeri Singa ini.  Nama yang dianggap paling tua adalah “Pulau Ujung”.  Dalam bahasa Cina disebut Pu-lo-chung.  Nama itu pernah pula dikenal sebagai “Salahit” yang bermakna Selat.[1] Dalam perkembangan selanjutnya, negeri ini dikenal dengan nama Temasek atau Tumasik yang berarti hutan rawa, atau menyerupai laut, sesuai dengan kondisi alam Singapura pada saat itu.[2] Nama Singapura pernah pula berubah menjadi Shōnantō dari kata-kata Jepang “Shōwa no jidai ni eta minami no shima” yang berarti “pulau selatan yang diperoleh pada periode Shōwa”.  Negeri ini dikuasai Jepang hingga pemerintah Britania menguasai kembali pulau ini pada 12 September 1945, satu bulan setelah penyerahan Jepang. Namun, nama popular negeri ini tentunya tak lain adalah Singapura![3] Menurut legenda, Sang Nila Utama, seorang Pangeran dari Palembang (ibukota kerajaan Sriwijaya), sedang pergi berburu ketika ia melihat seekor hewan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pangeran kemudian menganggap hal ini sebagai sebuah pertanda bagus, ia lalu mendirikan kota di tempat hewan itu terlihat, dan menamainya “Kota Singa” atau Singapura, dari bahasa Sansekerta “simha” yang berarti Singa dan “pura” yang berarti kota.

 

Riwayat asal muasal kota singa yang paling popular menyebutkan bahwa Singapura pernah pula menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya. Setelah keruntuhan Sriwijaya, Singapura menjadi taklukan Majapahit dan berturut turut dikuasai oleh Malaka, Johor-Riau. Namun, seiring ekspansi kolonoalisme Eropa, Inggris akhirnya menguasai Singapura. Saat bernama Tumasik inilah negeri ini diperintah raja raja Melayu. Raja pertama adalah Sang Nila Utama (1300-1348) kemudian berturut turut Paduka Sri Pikrama Wira (1348-1363), Seri Rana Wira Kerma (1363-1376) Paduka Seri Maharaja (1376-1389) serta yang ke lima Permaisura (Paramesywara) sekitar tahun 1389-1392. Setelahnya, negeri ini dibawah kekuasaan kerajaan beberapa Islam hingga masa pendudukan Jepang dan akhirnya mendapatkan kedaulatan pada 9 Agustus 1965. Saat penyerahan Singapura dari Inggris kepada Jepang disebut oleh Perdana Menteri Britania Raya saat itu, Winston Churchill sebagai “bencana terburuk dan “penyerahan terbesar dalam sejarah Britania Raya”.

 

 

B.      Singapura sebagai Little Red Dot”  

Belakangan saya tertarik membahas sebutan lain Singapura sebagai “Little Red Dot”  atau titik merah kecil. Kita tahu Singapura adalah sebuah negara kecil, teramat kecil bahkan untuk wilayah di Asia Tenggara ini. Dengan luas sekitar 637 kilometer persegi yang terus berkembang karena adanya lahan reklamasi yang kita tahu pasirnya sengaja didatangkan dari Indonesia, Singapura berhasil “menebar pesona” jutaan pelancong untuk mendatanginya. Tapi kembali pertanyaannya adalah, mengapa negeri yang dahulu hanya merupakan kampung nelayan sederhana, dan dihuni oleh para penduduk asli ini disebut sebagai noktah atau titik merah kecil?

 

Sejatinya, nama “red dot” pernah muncul dari komentar mantan Presiden Indonesia B.J. Habibie yang mengatakan, “Lihatlah peta itu. Semua wilayah hijau ini adalah Indonesia. Dan red dot itu adalah Singapura.” Komentar tersebut bahkan termuat dalam artikel yang dipublikasikan Asian Wall Street Journal tertanggal 4 Agustus 1998, beberapa bulan setelah kerusuhan Mei 1997. Berikut ini adalah versi jelasnya saat Habibie menunjuk peta dan berkata:

“It’s O.K. with me, but there are 211 million people [in Indonesia]. All the green [area] is Indonesia. And that red dot is Singapore.”[4] The remark caused an outcry as it was seen as a dismissal of Singapore.”[5]

Dari kutipan diatas bisa disimpulkan bahwa sebutan “red dot” bisa jadi berasal dari cara atau penggunaan titik merah pada peta untuk menunjukkan sebuah kota atau ibukota negara. Alasan penggunaan warna merah pada peta biasanya sebagai  penanda untuk  mengingat lokasi kota besar  atau ibukota sehingga mudah terlihat. Konsep itu nampaknya sejalan dengan warna traffic light: merah, kuning dan hijau. Namun dalam perspektif  geografi, beberapa warna seperti biru, hijau dan putih, biasanya digunakan untuk menunjukkan wilayah air, hutan dan es!!  Sekarang ini  semakin banyak orang mulai menggunakan istilah “titik merah” yang berarti Singapura. Jadi, dengan bantuan penanda titik merah, orang-orang mampu mengidentifikasi negara Singapura pada peta dunia.

A

Namun cerita Singapura sebagai sebuah titik merah tidak hanya berhenti disini. Tak lama sesudah komentar Habibie, presiden penerus Soeharto yang “lengser keprabon” itu,  muncullah respon balik dari Perdana Menteri Singapura saat itu, Goh Chok Tong. Pada pidato tanggal 23 Agustus 1998 ia berkata sebagai berikut::

“The effect of the Asian financial crisis in 1997 on  Indonesia is a “major tragedy”. Noting that the  rupiah was worth only a fifth of what it was against the US dollar  in June 1997; the banking system had almost collapsed; the economy was expected to contract by 15% in 1998; and that riots had taken place in the country in May 1998, mostly targeting  Chinese Indonesians. He then said, “Singapore will help Indonesia within the limits of our ability. We are a small economy. … After all we are only three million people. Just a little red dot on the map. Where is the capacity to help 211 million people?[6]

Meskipun Singapura bukan negara terkecil di dunia, ia adalah negara terkecil di Asia Tenggara yang sering jadi tempat persembunyian para koruptor kita yang pintar mencari alasan untuk ngumpet. Dengan luas sekitar 637 kilometer persegi dan terus berkembang karena adanya usaha  reklamasi ini tentunya akan mericuhkan konsep “Hubungan Internasional” karena masalah baru yang muncul seperti ketidakjelasan batasan wilayah territorial segitiga antara Indonesia-Singapura dan Malaysia!! Belum lagi masalah penyelundupan yang merupakan salah satu low issue dalam kajian hubungan Internasional. Namun, sebagai sebuah teritori, Singapura relatif kecil untuk banyak negara lain di dunia. Bahkan sebagai sebuah pulau, ia sangatlah kecil sehingga tanpa titik merah yang menunjukkan adanya sebuah negara di ujung Semenanjung Malaysia, kebanyakan orang mungkin bahkan tidak akan menyadari eksistensinya pada peta dunia. Seiring waktu, penggunaan istilah “the little red dot” tersebut menjadi kental dan identik dengan Singapura.  Bahkan, istilah ini diakui secara resmi di kamus bahasa slang yang berarti pulau-negara Singapura.[7]

 


[1] Buktinya, dalam buku hikayat Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, nama Singapura pernah disebut dengan nama Selat. Bahkan, dalam karya Hendra Sayuti. Pergumulan Melayu-Muslim di Singapura: Antara Identitas dan Loyalitas. (Pekanbaru: Alaf Riau, 2003) disebutkan negeri ini dibuka pertama kalinya menjadi negeri berkerajaan oleh Raja Melayu Hindu

 

[2] Kata Tumasik berasal dari Jawa Kuno dan tertuang dalam catatan Negarakertagama, karya Empu Prapanca juga pada Kitab Pararaton dan Sejarah Melayu.

[3] Sejarah awal Singapura tidak dapat ditelusuri dengan pasti dari sumber manapun, walaupun ada sebuah catatan sejarah dari bangsa Cina di abad ketiga yang menyebutnya sebagai “Pu-luo-chung”, atau “pulau di ujung semenanjung “. Kemudian, kota ini disebut sebagai Temasek (Kota Laut), ketika para penduduk pertama bermukim di sini di tahun 1298-1299.Saat abad ke 14, pulau kecil namun berlokasi strategis ini mendapatkan nama baru. Menurut legenda, Sang Nila Utama, seorang Pangeran dari Palembang (ibukota kerajaan Sriwijaya), sedang pergi berburu ketika ia melihat seekor hewan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.  Pangeran kemudian menganggap hal ini sebagai sebuah pertanda bagus, ia lalu mendirikan kota di tempat hewan itu terlihat, dan menamainya “Kota Singa” atau Singapura, dari bahasa Sansekerta “simha” yang berarti Singa dan “pura” yang berarti kota.

[5] Habibie : What I Meant by Little ‘Red Dot'”. The Straits Times. 2006-09-20.

 

[7] Double-Tongued Dictionary, (2006 Feb 14). Little Red Dot: Definition. Retrieved October 8, 2007, from Double-Tongued Dictionary Web site: http://www.doubletongued.org/index.php/ dictionary/little_red_dot/ Lihat juga

Tan, A. K.J. (1998 Sep 15). Preliminary Assessment of Singapore’s Environmental Law. Retrieved October 8, 2007, from Asia-Pacific Centre for Environmental Law Web site: http://sunsite.nus.edu.sg/apcel/dbase/ singapore/reports.html. Lihat juga Campbell, M. ((n.d.)). Mapping Conventions. Retrieved October 8, 2007, from Mapping Conventions Web site: http://spot.pcc.edu/~mcampbel/ map.protocols.pdf

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: